Tuesday, March 21, 2017

Doa Pencerah Jiwa



"Ya Allah, anugerahilah kami rasa takut kepada-Mu yang menjadi penghalang antara kami dan maksiat-maksiat kami, dan anugerahilah kami ketaatan kepada-Mu yang dapat mengantarkan kami kepada surga-Mu, dan anugerahilah kami keyakinan yang dapat meringankan berbagai musibah dunia.

Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada kami, melalui pendengaran kami, penglihatan kami, kekuatan kami, selama Engkau menghidupkan kami. Dan jadikanlah kebahagiaan itu selamanya bersama kami. Jadikanlah rasa marah kami untuk melawan orang-orang yang menzhalimi kami dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami.

Jangan Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan tertinggi kami dan puncak pengetahuan kami dan janganlah Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami menjadi pemimpin kami.” (HR al-Tirmidzi).

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا ، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا .
`allâhummaqsim lanâ min khasyyatika mâ tahûlu bihî bainanâ wabaina ma'âshîka, wamin thâ'atika mâ tuballighunâ bihî jannataka, waminal yaqîni mâ tuhawwinu bihî 'alainâ mashâ`ibad-dunyâ, `allâhumma matti'nâ bi`asmâ'inâ, wa`abshârinâ, waquwwatinâ mâ `ahyaitanâ, waj'alhul wâritsa minnâ, waj'al tsa`ranâ 'alâ man zhalamanâ, wanshurnâ 'alâ man 'âdânâ, walâ taj'al mushîbatanâ fî dîninâ, walâ taj'alid-dunyâ ``akbara hamminâ, walâ mablagha 'ilminâ, walâ tusallith 'alainâ man lâ yarhamunâ

https://www.facebook.com/tasawufunderground/posts/1238158872900711:0

Wednesday, March 8, 2017

Tiga Resep Dasar Seorang Hamba

‘Abdullah bin Mas’ud r.a. mengatakan:

أَدِّ مَا افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَاجْتَنِبْ مَحَارِمَ اللهِ تَكُنْ أَزْهَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

1) Laksanakanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu, niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling sering beribadah.

2) Jauhilah larangan-larangan Allah, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling zuhud.

3) Terimalah dengan ridha rezeki yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya.”

Kitab Nashaihul Ibad, Imam Nawawi Al-Bantani

Nasihat Ruhani Syaikh Abdul Qadir Al Jilani

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:

"Wahai saudaraku, jika engkau berada dalam kejayaan, maka manfaatkanlah kejayaanmu itu untuk bekal amal taat kepada-Nya. Gunakanlah kejayaan itu untuk mencari jalan menuju kepada jalan-Nya.
Wahai saudaraku, ingatlah bahwa harta yang engkau miliki itu dapat membakar dan menghanguskan kulitmu di akhirat nanti. Maka belanjakanlah hartamu sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan sunah Rasulmu. Agar engkau menjadi sejahtera, dunia dan akhirat.

Wahai saudaraku, cepat-cepatlah engkau menuju kepada Allah. Berlarilah kepada Allah. Gunakanlah harta yang ada di tanganmu untuk alat menuju kepada-Nya, untuk menegakkan syariat-Nya, untuk taat kepada-Nya dan untuk mencari ridha-Nya. Seorang mukmin itu harus tahu bahwa Al-Qur’an adalah roh hidayah yang ada di alam ini, oleh karena itu, antara orang muslim dan Al-Qur’an harus ada hubungan yang erat.

Sebab Al-Qur’an adalah tali Allah yang kuat dan jalan yang lurus. Al-Qur’an sebagai rahmat untuk alam semesta dan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Dalam Al-Qur’an telah terhimpun dasar-dasar kebaikan dan petunjuk untuk membangun kehidupan dan meletakkan landasan ketenteraman di muka bumi ini.

Allah Swt. berfirman:“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS Al-Isrâ' [17] :9)”

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

Cara Bertemu Allah dan RasulNya

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:

"Wahai anak muda! Engkau mengaku sebagai Sufi, tetapi engkau merasa terganggu dan bingung. Sufi adalah orang yang lahir dan batinnya telah dimurnikan (shafâ) dengan mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya SAW semakin meningkat kemurniannya, dia semakin muncul dari lautan eksistensinya dan meninggalkan kehendak, pilihan serta kemauannnya sendiri dikarenakan kemurnian kalbunya.

Ketika kalbu seseorang telah murni, maka Nabi SAW akan menjadi duta antara dia dan Rabbnya, sebagaimana halnya Jibril.

Dasar kebaikan adalah mengikuti Nabi SAW dalam perkataan dan perbuatannya. Semakin murni kalbu si hamba, akan semakin sering dia melihat Nabi SAW dalam mimpinya, dimana beliau akan menyuruhnya melakukan sesuatu dan melarangnya mengerjakan sesuatu yang lain. Keseluruhan dirinya akan menajdi satu kalbu dan bentuk fisiknya akan terpisah. Dia menjadi sebuah rahasia (sirr) tanpa publikasi (jahr) kejelasan murni tanpa kekacauan yang keruh.

Mencabut segala sesuatu dari kalbu berarti membongkar gunung-gunung yang kokoh dan tak tergoyahkan. Ia memerlukan upaya yang keras dan kesabaran dalam menahan penderitaan dan bencana. Janganlah engkau pergi mencari apa yang tidak jatuh ke tanganmu. Adalah baik bagimu jika engkau mempraktikan apa yang tertulis ini, dan menjadi Muslim! Adalah baik bagimu pada Hari Kebangkitan jika engkau berada dalam kumpulan orang-orang Muslim dan bukan dalam kumpulan orang-orang kafir!

Selamat atas ditempatkannya engkau di surga atau di pintunya, dan tidak di tengah-tengah mereka yang ditetapkan untuk masuk ke kedalaman neraka! Engkau harus rendah hati dan tidak sombong. Kerendahan hati akan mengangkat derajat, sedangkan kesombongan akan mencampakkan. Seperti dikatakan oleh Nabi SAW: “Jika seseorang rendah hati terhadap Allah, maka Allah akan mengangkatnya.”

Allah mempunyai sejumlah hamba khusus yang mengerjakan perbuatan-perbuatan baik sedemikian rupa sehingga amal-amal mereka sebesar gunung, seperti amal-amal baik para pendahulu mereka. Namun demikian, mereka merendahkan diri di hadapan Allah Yang Mahakuasa dan Mahaagung, dan mengatakan: “Kami belum mengerjakan sesuatu pun yang cukup baik untuk memastikan bahwa kami akan masuk surga.

Kalaupun kami akan diterima di sana, itu adalah karena rahmat Allah, dan jika kami tidak diizinkan masuk, maka itu adalah karena keadilan-Nya.” Mereka akan selalu siap melaksanakan perintah-perintah-Nya, selagi mereka berdiri di hadirat-Nya dalam keadaan kebangkrutan pribadi (iflâs).

Kalian harus bertobat dan mengakui kekurangan-kekurangan kalian. Tobat adalah kekuatan hidup dari Tuhan Yang Mahabenar. Dia menghidupkan kembali bumi dengan hujan yang menyegarkan setelah ia mati, dan Dia menghidupkan kembali kalbu-kalbu kita setelah mereka mati, melalui tobat dan kesadaran (yaqzhah). Wahai pendosa-pendosa yang membangkang, bertobatlah! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS 39:53)

Ingatlah Allah Mahakuasa dan Mahaagung! Kalian tidak boleh sekali-kali berputus asa dari rahmat dan kasih-Nya!”

Syekh Abdul Qadir Jailani dalam kitab Jala Al-Khawathir

Kerja, Ibadah dan Jihad

Suatu ketika, seseorang berjalan melintasi tempat Rasulullah Saw., orang itu terlihat sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkomentar, “Ya Rasulullah, andai kata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan fî sabîlillâh, alangkah baiknya.” Lalu, Rasulullah menjawab, “Kalau dia itu bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu adalah fî sabîlillâh; kalau ia bekerja untuk membela kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, maka itu pun fî sabîlillâh; bahkan kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya agar tidak meminta-minta, maka itu adalah fî sabîlillâh,” (HR At-Tabrani).

Salahlah orang yang mengira bahwa agama hanya melulu mengurusi halal-haram, surga-neraka, tahlil dan zikir di masjid tanpa konsep wirausaha dan kerja keras. Agama tak hanya mengurusi jenazah, masjid, kenduri atau kegiatan formalitas simbolik lainnya.

Agama justru mengajarkan tentang etos kerja dan daya juang menghadapi hidup. Maka, salahlah orang yang hanya berdoa di masjid setiap hari, tanpa berbuat banyak untuk mencari nafkah bagi anak, istri dan keluarganya. Islam tidak mengajarkan orang untuk menjadi petapa yang tinggal di gua gelap selama berhari-hari dan mengandalkan orang untuk bersimpati kepadanya.

Rasulullah mengatakan, sungguh, Allah sangat senang jika salah seorang di antara kamu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang dilakukan dengan terus menerus dan sangat bersungguh-sungguh, (HR Muslim).

Tanpa konsistensi, kerja yang berkesinambungan, disiplin dan kesungguhan, amat sukar bagi seseorang untuk mendapatkan keinginan yang mau dicapai. Jauh-jauh hari Rasul telah memberi dasar-dasar etos kerja bagi setiap Muslim.

Rasul mengatakan, apabila engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi, dan jika engkau berada di waktu pagi maka janganlah menunggu sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Pergunakan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu, (HR Bukhari).

Kebahagian hidup di dunia tak akan bisa dicapai hanya dengan berdiam diri di rumah, tanpa usaha. Tuhan dan rasul-rasul-Nya tak pernah melarang kita menjadi kaya raya, karena bukan kekayaan yang dilarang, tapi ketamakan dan kerakusan manusianya yang dilarang. Bahkan, kemiskinanlah yang sangat dikhawatirkan oleh Sang Rasul, karena akan mendekatkan seseorang pada kekufuran. Makanya, Nabi selalu mengingatkan, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Rasulullah membuat ilustrasi, seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta kepada seorang yang kadang-kadang diberi, kadang-kadang pula ditolak,” (HR Bukhari dan Muslim).

Allah Swt. juga pernah mengingatkan Nabi, katakan kepada kaummu: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,’” (QS A-Zumar [39]: 39).

Seluruh nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi ini adalah pekerja keras. Tak ada yang mendapatkan harta dengan lamunan atau kemalasan. Rasulullah sendiri adalah penggembala kambing, sudagar kaya, bahkan bisa disebut pengekspor-impor, karena pernah berdagang hingga Yaman dan Syria.

Nabi Musa a.s., Sulaiman a.s., Dawud a.s., Ibrahim a.s. dan nabi-nabi yang lain pun dikisahkan dalam Al-Qur’an dan Hadis sebagai pekerja keras, penggembala (peternak) dan saudagar sukses.

Dalam Islam, kerja adalah ibadah. Kerja merupakan jihad yang sangat dihormati Tuhan. Orangtua yang bekerja, banting tulang mencari nafkah untuk anak, istri dan keluarganya merupakan syuhada-syuhada yang dimuliakan Tuhan. Mereka layak dikatakan sebagai pahlawan, minimal pahlawan bagi anak dan istrinya.

Setiap tetes keringat yang mengucur dari jerih payahnya akan bernilai ibadah dan dicatat sebagai pahala, yang kelak di akhirat akan mendapatkan imbalannya.

Orientasi kerja seorang Muslim tidak hanya untuk tujuan duniawi, tetapi juga sebagai bekal ukhrawi.
Karena itu, agama melarang seseorang menghalalkan segala cara dalam mendapatkan sesuatu. Islam telah mengatur hubungan muamalat manusia, baik dalam kegiatan ekonomi, perbankan, asuransi, jasa, pertanian, perdagangan dan kegiatan lainnya. Kesungguhan dan kerja keras seseorang tak hanya bertujuan untuk investasi duniawi, tetapi juga ukhrawi sekaligus.

Salam Perjuangan!

Monday, March 6, 2017

Jawapan Cinta Sang Maha Cinta

Diriwayatkan bahwa setelah Nabi Dawud a.s. menyaksikan sendiri betapa hebat dan dahsyat balasan cinta Allah SWT kepada para wali-wali-Nya—para pecinta Allah merindukan perjumpaan dengan-Nya—beliau pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dengan apa mereka memperoleh anugerah ini dari-Mu?

Allah SWT menjawab, “Dengan berbaik sangka, mencegah diri dari dunia dan penghuninya, mengasingkan diri bersama-Ku dan munajat mereka kepada-Ku. Ini adalah peringkat yang tidak mudah dicapai oleh siapa pun kecuali orang yang bersungguh-sungguh menutup mata terhadap dunia dan penghuninya, juga sedikit pun tidak disibukkan olehnya, bahkan tidak terlintas dalam ingatannya.
Ia mengosongkan dirinya hanya untuk-Ku dan hanya memilih-Ku di antara seluruh makhluk-Ku.

Ketika itulah Aku bersimpati kepadanya. Aku kosongkan jiwanya dan Aku singkapkan tirai antara Aku dengannya hingga ia melihat-Ku sebagaimana mata melihat sesuatu.

Aku perlihatkan kepadanya kemuliaan-Ku setiap waktu. Aku dekatkan dia pada cahaya ‘wajah’-Ku. Jika ia jatuh sakit, maka Akulah yang merawat dan mengobatinya, persis seperti seorang ibu yang penuh kasih merawat anaknya. Jika ia haus, maka Aku memberikan minum dan Aku cicikan padanya kelezatan mengingat-Ku.

Aku berbuat begitu kepadanya, maka ia buta akan dunia dan seluruh penghuninya. Aku jadikan ia tidak berselera kepadanya. Ia pun tidak susah-payah sibuk dengan-Ku. Lalu, ia pun ingin cepat-cepat mendatangi-Ku.

Aku tak ingin cepat-cepat mencabut nyawanya, sebab ia tidak melihat apa pun selain Aku. Hal yang sama pun terjadi pada-Ku. Aku tak melihat selain darinya. Jika Aku melihatnya, maka melelehlah dirinya, kuruslah badanya, dan berhamburlah organ-organ tubuhnya.
Ketika ia mendengar Aku menyebutnya, kalbunya langsung tercerabut.

Aku banggakan ia pada malaikat-malaikat-Ku dan para penghuni langit-Ku. Lalu, rasa takut dan ibadahnya pada-Ku pun semakin bertambah. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan dudukkan dia di Surga Firdaus, Aku akan menyembuhkan dadanya dengan melihat-Ku sampai ia rela dan benar-benar rela!”

--Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mahabbah wa asy-Syawq wa al-Uns wa ar-Ridha

https://www.facebook.com/tasawufunderground/posts/1250516478331617:0

Thursday, March 2, 2017

Belajar Ilmu Diam

Rasulullah SAW bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ وَالصُّمْتُ أَفْضَلُ وَ الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ غَضْبَ الرَّبِّ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ وَ الصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالْجِهَادُ سَنَامُ الدِّيْنِ وَ الصَّمْتُ أَفْضَلُ
“Shalat adalah tiang agama, tetapi diam itu lebih utama.
Shadaqah dapat memadamkan murka Rabb, tetapi diam itu lebih utama.
Puasa adalah perisai dari siksa neraka, tetapi diam itu lebih utama.
Jihad itu puncaknya agama, tetapi diam itu lebih utama.”

Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda:
الصَّمْتُ أَرْفَعُ الْعِبَادَاتِ
“Diam adalah bentuk ibadah yang paling tinggi.” (HR. Ad-Dailami)

Maksud diam di sini adalah diam dari sesuatu yang tidak bermanfaat, baik dalam urusan agama maupun dunia, dan diam dari membalas omongan orang yang mencemooh kita.

Nah, diam yang seperti ini termasuk ibadah yang paling tinggi, sebab kebanyakan kesalahan itu timbul dari lisan. Adapun jika seseorang diam karena dia sendirian tanpa adanya orang lain yang memotivasinya untuk diam, maka diamnya bukan ibadah.

Rasulullah SAW juga bersabda :
الصَّمْتُ زَيْنٌ لِلْعَالِمِ وَ سِتْرٌ لِلْجَاهِلِ
“Diam itu adalah perasaan bagi orang ‘Alim dan selimut bagi orang bodoh.” (HR. Abu Syaikh, dari Muharriz)

الصَّمْتُ سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ
“Diam itu adalah akhlak yang paling utama.”
الصَّمْتُ حِكَمٌ وَقَلِيْلٌ فَاعِلُهُ
“Diam itu mengandung hikmah yang banyak, tetapi sedikit orang yang melakukannya.” (HR. Qadha’I, dari Anas dan Dailami, dari Ibnu ‘Umar)

Oleh karena itu, ada syair yang mengatakan:
Wahai orang yang banyak bicara tanpa guna, kekanglah mulutmu
Sungguh kamu terlalu banyak bicara ke sana dan ke mari.
Sungguh kamu telah banyak berperan dalam keburukan
Mulai sekarang diamlah jika kamu ingin menjadi baik.

Rasulullah SAW bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ اَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ وَهَوَاكَ فِيْ ذَاتِ اللهِ
“Jihad yang paling utama adalah memerangi hawa nafsu karena Allah.” (HR. Ad-Dailami)

---Dikutip dari kitab Nashaihul 'Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani.

https://www.facebook.com/tasawufunderground/posts/1246770225372909:0