Sunday, October 30, 2016

Pesan Syaikh Ibnu 'Arabi Tentang Cahaya Ilahi



Syekh Ibnu ‘Arabi menuturkan bahwa beberapa orang datang kepada Khalifah Usman r.a. dan bertanya, “Apakah ada manusia setelah pemimpin kita Rasulullah SAW yang menerima wahyu dari Allah?”
Khalifah Usman r.a. pun menjawab, “Ketahuilah bahwa tak seorang pun akan menerima wahyu langsung dari Allah seperti yang beliau (Rasulullah) alami—tetapi aku mendengar beliau bersabda, ‘Berhati-hatilah terhadap firasat orang yang beriman, sebab dia melihat dengan cahaya Allah.’” Dan, dia berkata kepada orang itu, “Kulihat sinar cahaya Ilahi itu dalam matamu sendiri.”

Sinar cahaya Ilahi ini, menurut Syekh Ibnu ‘Arabi, dikaruniakan Allah kepada sebagian orang beruntung tapi yang imannya masih lemah, tujuannya agar hati mereka diperkuat dan didekatkan kepada Tuhan mereka. Namun, sinar ini tak akan tampak, kecuali ia dilindungi dan dilestarikan oleh ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Maka, dengarkanlah apa yang Allah firmankan kepadamu di dalam Al-Quran. Carilah di dalamnya arah bagi perbuatan dan cintamu. Hatimu akan berdegup karena cinta itu jika engkau beriman kepada apa yang kau dengar, dan membuktikannya dengan perbuatanmu.

Jika imanmu lemah dan kau lupa kepada Tuhan, berpegalah kepada tanda-tanda yang telah Allah letakkan di dalam segala sesuatu yang ada di sekitarmu untuk mengingatkan dirimu kepada-Nya. Maka, dengan penegasan dan bukti atas kebenaran tanda-tanda itu,yang diajarkan agamamu, hatimu akan menemukan kekuatan, dan imanmu akan semakin kokoh.

Lalu, jika engkau mampu melihat tanda-tanda kekuasaan Tuhan di sekelilingmu, namun tidak memahami maknanya karena kau kurang melaksanakan latihan batin, maka akibatnya kau mungkin disalahkan (orang lain), bahkan oleh dirimu sendiri, karena yang kau lihat hanyalah sihir atau ilusi belaka.

Ingatlah bahwa alat penglihatan kita adalah bashirah, mata batin—dan tanda orang yang memiliki mata batin ini adalah bahwa perilaku dan akhlak yang indah terungkap dalam perbuatannya. Perbuatan ini merupakan buah dari pemahaman dan pengetahuannya.

Memikirkan tentang makna batin atau spiritualitas dengan Allah mempengaruhi indera dan menajamkan kepekaan, yang memampukan orang untuk melihat berbagai alam gaib. Kaum materialis menolak kemampuan semacam ini. Banyak di antara mereka tidak percaya hal ini. Tetapi, sebenarnya ia merupakan sebuah ilmu yang tak ubahnya seperti ilmu yang lain, yang bergantung pada latihan (riyadhah), percobaan, dan usaha yang terus menerus (mujahadah). Ia merupakan pengetahuan yang diawali dengan iman dan bergantung pada iman.

Dan, kebahagiaan yang diperoleh oleh seseorang dari penglihatan sekilas atas kebenaran, yang dimungkinkan oleh firasat bawaan, karunia Allah, yang dimiliki setiap orang.
Orang yang melihat dengan mata batin ini berarti melihat dengan cahaya Tuhan. Cahaya Tuhan hanya mengungkapkan kebenaran saja. Kenyataan ini, dan pengakuan atasanya, hanya terungkapkan jika firasat bawaan dilengkapi dengan hukum-hukum agama.

Semoga bermanfaat!

--Syekh Ibnu ‘Arabi dalam Kitab Tadbirat al-Ilahiyyah fi Ishlah al-Mamlakah al-Insaniyah.

https://www.facebook.com/tasawufunderground/photos/a.302931509756790.65694.302548766461731/1120227404693859/?type=3

Saturday, October 29, 2016

Zikir Ribu-ribu

Apabila saya tulis ahli zikir, ada yang sudah sampai pusingan zikirnya sehingga 70 ribu, 100 ribu, 1 juta, dan malah lebih daripada itu, seperti biasa, akan ada yang bertanyakan dalil, dan tidak kurang juga yang menolak terus pernyataan jumlah-jumlah itu dengan alasan tabu dan tepu; Nabi tak pernah buat, seolah-olah sudah ditelaah ribuan hadith Baginda Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam.

Maha Suci Allah Ta'ala yang mempedomankan saya kepada hadith berikut ini :

Sayyidatina Sofiyyah radhiyallahu 'anha berkata :

"Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam telah masuk ke bilik saya, dan di hadapan saya terdapat 4 ribu biji tamar yang saya gunakan untuk mengira tasbih saya. Baginda shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda , "Wahai puteri Huyaiy (Sofiyyah), apakah ini?" Saya pun menjawab, "Biji tamar yang saya gunakan untuk bertasbih." Baginda shollallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sejak saya datang berdiri di samping kamu, saya telah bertasbih lebih banyak daripada itu." Saya pun berkata, "Ajarkanlah kepada saya wahai Rasulullah." Baginda bersabda, "Saya bertasbih SubhanAllahi 'adada ma khalaqa min syai-in" (yang bermaksud saya bertasbih Maha Suci Allah sebanyak bilangan sesuatu yang telah dijadikan oleh Allah Ta'ala)." - [Mustadrak Hakim].

Nota :

1] Sayyidatina Sofiyyah bertasbih sebanyak 4 ribu bilangan biji tamar, Rasulullah tidak melarang.
2] Rasulullah juga tidak melarang penggunaan biji tamar sebagai alat pengiraan atau 'tasbih'. Jadi tidak ada masalah penggunaan 'biji tasbih'.
3] Rasulullah menyatakan bahawa Baginda bertasbih lebih banyak daripada bilangan 4 ribu, dalam erti kata boleh jadi 10 ribu, 100 ribu, 1 juta, dan lebih lagi daripada itu.

****

Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahawa Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahawa Allah Ta'ala berfirman :

"Apabila seseorang hamba mengingatiKu, dan bibirnya bergerak-gerak kerana mengingatiKu, maka Aku bersama dengannya." - [Ibnu Majah].

محمد حافظ الفنداني |

https://www.facebook.com/hafiz.fandani/posts/10211835192741244

Friday, October 28, 2016

Sopan Santun Ala Sufi



Dzu Nun Al-Mishri mengatakan, “Jika seorang murid telah keluar dari kesopanan, berarti dia kembali dari mana asal dia datang.” Allah SWT berfirman, “Dan, (ingatlah kisah) Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS Al-Anbiya: 83)

Menurut Syekh Abu Ali Ad-Daqaqq, pada ayat ini, Nabi Ayyub a.s. tidak mengatakan “Ya Allah kasihanilah aku” karena Ayub telah menjaga kesopanan pada Tuhan yang dimintainya.
Demikian juga Nabi Isa a.s. ketika mengatakan, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu.” (QS Al-Maidah: 118).

Nabi Isa a.s. tidak mengatakan permintaannya secara terus terang untuk menjaga kesopanan di hadapan Allah.
Imam Al-Junaid, yang juga dikenal dengan panggilan akrab Abu Qasim, menceritakan bahwa di hari Jumat ada beberapa orang kaya dan terhormat datang kepadaku dan mengatakan, “Kirimkanlah seorang yang miskin bersamaku agar dia datang kepadaku dengan senang hati dan makan-makan bersamaku.”

Lalu, tiba-tiba, aku bertemu dengan seorang yang tampak miskin. Aku melihat dia sangat kelaparan, lalu aku panggil dia dan kukatakan padanya, “Hai saudaraku! Pergilah bersama Syekh ini dan hiburlah dia!”

Orang miskin ini pun menuruti perintahku. Dia pergi bersama tamu-tamuku itu ke rumahnya. Tetapi, sejurus kemudian, tiba-tiba, salah seorang tamuku datang menghampiriku dan mengatakan, “Wahai Abu Qasim, lelaki miskin ini tidak makan kecuali hanya sesuap saja. Lalu, dia pergi meninggalkan kami?!”

“Mungkin kalian mengatakan kata-kata yang tak sopan?” tanyaku.
“Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab salah satu tamuku.
Aku pun berpaling, dan kulihat lelaki miskin itu sedang duduk di sudut rumahku. Aku bertanya kepadanya, “Kenapa tak kau sempurnakan kebahagiaan mereka?”

“Wahai tuanku, aku keluar dari Kuffah menuju Baghdad tanpa makan apa pun. Aku tidak ingin tampak kurang sopan di hadapan tuan hanya karena rasa laparku. Ketika tuan memanggilku, aku sangat senang sekali. Karena, hal itu merupakan awal dari perkenalanku dengan tuan yang sangat kukagumi. Aku menuruti perintah tuan untuk ikut bersama mereka, sedangkan aku tidak rela mendapatkan surga karena itu. Aku menginginkan sesuatu yang lebih tinggi. Ketika aku duduk dekat meja makan mereka, dia memberi aku sesuap makanan sambil berkata, ‘Makanlah! Makanan ini lebih aku senangi daripada seribu dirham.’ Aku mendengar ucapan ini. Aku tahu bahwa niatnya kurang baik. Karena itu, aku berusaha makan sesuap saja.’”

Setelah mendengar ucapan lelaki miskin ini, Imam Al-Junaid berkata pada orang kaya ini, “Ternyata benar apa yang kutakan padamu tadi. Engkau memang telah berlaku kurang sopan kepadanya!”
“Wahai Abu Qasim, aku sangat menyesal...”
“Sekarang, pergilah bersamanya! Kini giliranmu menghibur lelaki miskin itu!” perintah Al-Junaid.

--Risalah Al-Qusyairiyah karya Imam Al-Qusyairi

https://www.facebook.com/tasawufunderground/posts/1118061578243775:0

Tanpa Naungan Khalifah

Lagi 8 tahun (2024), maka genaplah satu abad umat Islam hidup tanpa naungan khalifah. Keadaan ini berpunca daripada peristiwa yang berlaku 100 tahun yang lalu: peristiwa Al-Thawra Al-Arabiyya Al-Kubra atau dalam Bahasa Inggeris “The Great Arab Revolt”. Oktober 2016 ialah masa yang paling sesuai untuk memperingati peristiwa ini.

Sekitar Oktober 1916, Kapten T. E. Lawrence atau “Lawrence of Arabia” tiba di Madinah dan bertemu dengan Amir Faisal, putera sulung kepada Sharif Hussein, pemerintah Haramain (“Penjaga Dua Kota Suci” lantikan Khalifah) yang berketurunan Banu Hashim. Misi Lawrence sebagai wakil Empayar Britain adalah untuk merancang strategi bersama keluarga Sharif untuk menyerang kubu Madinah yang dipertahankan oleh Fakhri Pasha, seorang jeneral Khilafah Turki Uthmaniyyah (“Ottoman”) yang handal. Kehadiran Lawrence menyusuli persetujuan Sharif Hussein dan Henry McMahon, Pesuruhjaya Tinggi Britain di Mesir, untuk bersama-sama menentang Khilafah Uthmaniyyah.

Ketika itu Perang Dunia Pertama (WW1) telah berlangsung dua tahun lebih di antara Pakatan Britain-Perancis-Russia dan Pakatan Jerman-Austria. Kerajaan Khilafah Turki Uthmaniyyah yang ketika itu dikuasai oleh “Tiga Pasha” (Talaat Pasha, Enver Pasha, Djemal Pasha) telah menyertai pakatan Jerman, walaupun tidak dipersetujui oleh Khalifah Mahmud V (Mehmed V). Keluarga Sharif yang telah lama tidak berpuas hati dengan pemerintahan Turki, membuat keputusan untuk berpakat dengan Britain demi membebaskan bangsa Arab daripada pemerintahan Turki (sebenarnya, tak ramai pun Arab yang sokong keluarga Sharif). Britain telah memberi janji yang lumayan bahawa Britain akan menyokong Sharif untuk menjadi khalifah kepada dunia Arab.

Namun, apa yang tidak diketahui oleh Sharif ialah perjanjian rahsia di antara Britain dan Perancis yang bernama Perjanjian Sykes-Picot. Al-maklum lah waktu itu tiada WikiLeaks. Menurut perjanjian tersebut, wilayah Uthmaniyah selepas perang akan dibahagikan di antara Britain dan Perancis. Setahun kemudian (1917), Britain juga mengadakan Perjanjian Balfour dengan keluarga Rothschild, penaja gerakan Zionisme bahawa Britain akan mewujudkan sebuah negara Yahudi (“Jewish national home”) di Palestin.

Selepas tamatnya WW1, wilayah Turki Uthmaniyyah dibelah bahagi menurut Perjanjian Sykes-Picot. Perancis mendapat Syria dan Lebanon; Britain mendapat Palestin, Jordan dan Iraq. Britain tidak mengotakan janji McMahon terhadap Sharif. Malah, Britain memberi bantuan senjata kepada musuh Banu Hashim iaitu Bani As-Saud untuk memerangi Sharif. Belum sempat lagi Sharif menubuhkan khilafah, keluarga As-Saud telah pun menawan Makkah dan Madinah pada tahun 1924 dan keluarga Sharif terpaksa meninggalkan Haramain. Keluarga As-Saud menubuhkan kerajaan yang bernama Arab Saudi.

Manakala di Turki, para pemenang WW1 (Britain, Itali, Greece) cuba menguasai Turki. Mustafa Kemal telah bangkit menentang penceroboh-penceroboh asing. Mustafa Kemal menubuhkan Republik Turki dan dihormati sebagai Ataturk (“Bapa Bangsa Turki”). Pada 3 Mac 1924, Khilafah dimansuhkan. Khalifah ke-101, Sultan Abdul Majid II (Abdulmecid II) dibuang negeri. Apa yang berlaku di Turki selepas itu, semua dah sedia maklum.

Tentu ada pengajaran (ibrah) di sebalik sejarah. Kedua-dua Turki Uthmaniyyah dan keluarga Sharif, dan umat Islam secara keseluruhan ialah “mangsa geopolitik” yang kena “game” dengan percaturan kuasa-kuasa besar dunia. Britain sebenarnya hanya menganggap keluarga Sharif sebagai satu anak catur untuk menjatuhkan Uthmaniyyah dan membolehkan Britain menguasai Mashriq (kawasan di antara Laut Mediterranean dan Sungai Euphrates) yang strategik.

Begitu juga dengan Jerman. Bukannya Jerman nak buat pakatan dengan Turki sebab pro-Islam. Sebab-sebabnya hanya: kerana ada musuh yang sama dengan Turki iaitu Russia; dan kerana nak cari titik “pivot” di Teluk Parsi untuk melancarkan kuasa (“projecting power”) ke Lautan Hindi yang dikuasai Britain. Begitu juga dengan Hitler semasa Perang Dunia Kedua. Bukannya Hitler anti Yahudi sebab dia sokong perjuangan Palestin, tapi Hitler hanya menggunakan anti-Semitisme untuk mencari sokongan di kalangan negara-negara Arab.

Sudahkah kita mengambil pengajaran?

last_caliph_14591622_10205535619429474_4934116336207559385_n


Dalam gambar: Amir Faisal ibn Hussein menghadiri Persidangan Keamanan Paris (Paris Peace Conference) di mana pemenang-pemenang WW1 mengadakan rundingan. Lelaki ke-3 dari kanan (sebelah bahu kiri Faisal) ialah T. E. Lawrence. Lawrence agak bersimpati dengan keluarga Sharif dan telah mendapatkan hak memerintah Jordan dan Iraq untuk keluarga Sharif. Pemerintahan keluarga Faisal di Iraq digulingkan dalam kudeta berdarah pada tahun 1958, manakala keturunan Amir Abdullah, putera kedua Sharif masih memerintah Jordan sehingga pada hari ini.

Sumber:
Firas Alkhateeb (2014), Lost Islamic History: Reclaiming Muslim Civilisation from the Past
Eugene Rogan (2015), The Fall of the Ottomans: the Great War in the Middle East, 1914-1920
Ian Rutledge (2015), Enemy on the Euphrates: the British Occupation of Iraq and the Great Arab Revolt, 1914-1921

Wednesday, October 26, 2016

Allah Yang Menentukan Bila Kau Sampai (Wushul) KepadaNya

“Jika engkau yakin bahwa kau hanya akan sampai kepada Allah setelah lenyapnya semua keburukanmu dan sirnanya semua hasratmu, maka engkau selamanya tak akan sampai kepada-Nya. Tetapi, jika Dia menghendakimu sampai kepada-Nya, Dia akan menutupi sifatmu dengan sifat-sifat-Nya dan watakmu dengan watak-Nya, Dia membuatmu sampai kepada-Nya dengan kebaikan yang diberikan-Nya kepadamu, bukan dengan kebaikan yang kaupersembahkan kepada-Nya.”
—Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam.

Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa engkau tak akan sampai kepada-Nya sekalipun kau melakukan riyadhah (olah batin) dan mujahadah berusaha menghilangkan aib dan semua keinginan yang tak layak bagimu, seperti keinginan untuk meraih kekuatan, kehormatan, kekayaan,dan kekuasaan. Itu adalah sifat-sifat inti dan watak yang sudah melekat pada seorang hamba dan tak dapat terlepas darinya. Wushul (sampai) kepada Allah adalah anugerah-Nya yang diberikan kepadamu, bukan karena usahamu sendiri.

Hal ini pernah diisyaratkan Allah dalam sebuah hadis Qudsi: “Hamba-hamba-Ku terus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Dan, jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang digunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang digunakan untuk memukul, dan menjadi kakinya yang digunakan untuk berjalan.”

Syekh Asy-Syadzili mengatakan: “Seorang wali tidak pernah sampai (wushul) kepada Allah selama dia memiliki syahwat, keinginan, dan pilihan. Walaupun Allah sudah memberi jalan baginya, dia tetap tidak akan sampai kepada-Nya. Namun, jika Allah menginginkan untuk mendekatkan hamba itu kepada-Nya, Dialah yang akan mengaturnya, yaitu dengan menampakkan sifat-sifat-Nya yang tinggi dan suci sehingga akan menghilangkan sifat-sifat hamba-Nya yang buruk. Saat itu, hamba tersebut tidak lagi memiliki keinginan dan pilihan, kecuali yang dipilihkan dan diinginkan Al-Haqq.”

--Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syekh Abdullah Asy-Syarqawi

https://www.facebook.com/tasawufunderground/posts/1116471751736091

Saturday, October 22, 2016

Mahadaya Cinta Dari Syaikh Abdul Qadir



Syekh Abdul Qador Al-Jailani qaddasallahu sirrahu mengatakan: 

“Betapa banyak Mukmin yang mengatakan, ‘Si Fulan didekatkan, aku dijauhkan. Si Fulan diberi, sedangkan aku tidak. Si Fulan diberi pujian, sedangkan aku dicela. Si Fulan dibenarkan, sedangkan aku didustakan.”

Tidakkah engkau mengetahui sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu. Sesungguhnya Dzat yang Satu itu mutlak bersifat Tunggal dan Esa dalam satu mahabbah-Nya, serta mencintai keesaan dalam Mencintai (mahabbah).

Apabila engkau diberi kedekatan melalui jalan orang lain, akan berkuranglah kecintaanmu kepada-Nya, dan engkau akan terpecah hatinya. Kadang-kadang dalam dirimu terdapat kecenderungan terhadap seseorang yang dalam genggamannya terdapat hubungan dan nikmat. Maka, akan semakin berkuranglah rasa cintamu kepada Allah Subhanahu wa Taala.

Dan, Allah adalah Dzat Yang Maha Pencemburu. Dia tak mau diduakan (disekutui). Maka, Allah akan mencegah dan menghalangi setiap orang selainmu untuk mempunyai hubungan denganmu, mencegah lisanmu, menghalangi kakinya untuk berjalan menuju kepadamu supaya engkau tidak sibuk dengannya.
Tidakkah engkau mendengar sabda Rasulullah SAW, “Hati akan ditarik pada kecintaan orang yang berbuat baik kepadanya.” (HR Abu Naim)

Allah SWT juga pernah berfirman, “Dia akan mencegah setiap makhluk untuk berbuat baik kepadamu dalam semua sisi dan sebab, sampai akhirnya engkau hanya mencintai dan mengesakan-Nya. Dan, engkau menjadi milik-Nya dari semua arah, baik lahirmu maupun batinmu, dan dalam gerakmu atau dalam diammu.

Maka, janganlah melihat kebaikan selain dalam Dzat-Nya, dan melihat keburukan pada selain-Nya. Engkau harus fana dari semua makhluk, semua jiwa, maupun hawa nafsumu sendiri. Begitu juga dari semua keinginan, cita-cita dan semuanya selain Dzat Yang Maha Menciptakan dan menjadi Tujuan Penyembahan kita.

Lalu, Dia akan membuka dan memberikan semua tangan kepadamu, menyerahkan pemberian kepadamu dan memasrahkan semuanya kepadamu.Dia akan menganugerahkan lisan-lisan yang selalu memujimu. Dia akan memberikan karunia kepadamu selamanya. Baik di dunia maupun di akhirat. Maka, janganlah berprilaku buruk!”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Futuhul-Ghaib.

https://www.facebook.com/tasawufunderground/posts/1113578685358731:0

Saturday, October 15, 2016

Belajar Dari Seekor Lebah



Abdullah bin Amr bin al-Ash menuturkan bahwa sesungguhnya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, perumpamaan orang Mukmin bagaikan lebah. Lebah itu memakan makanan yang baik-baik dan mengeluarkan yang baik pula. Tidak jatuh tatkala menghinggapi dan tidak mematahkan yang dihinggapi." (HR Ahmad)

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تُكْسَرْ وَلَمْ تَفْسُدْ ْ

Allah SWT berfirman:
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَن
ِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada
lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.”

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan."( QS. An-Nah (16): 68-69)

Syekh Ibnu Atha'illah mengatakan:
"Orang yang menggunakan masa sehatnya untuk bermaksiat kepada Allah SWT adalah seperti seorang anak yang mendapat warisan dari ayahnya sebesar seribu dinar, kemudian ia gunakan semua uang itu untuk membeli ular dan kalajengking yang sangat berbisa yang kemudian mengelilingi dan menggigitnya. Bukankah ular dan kalajengking tersebut akan membunuhnya?

Kamu gunakan masa sehatmu untuk bermaksiat kepada Allah swt, maka nilaimu adalah seperti burung pemakan bangkai yang terbang berkeliling mencari bangkai, dimana pun ia dapatkan, maka ia segera mendarat.

Jadilah seperti lebah, kecil tetapi memiliki cita-cita yang mulia. Ia hisap wewangian dan ia hanya produksi madu yang enak."

Semoga bermanfaat!

https://www.facebook.com/tasawufunderground/posts/1107270732656193:0