Tuesday, November 8, 2016

Rahsia Zikir Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah



Ibn ‘Abbas r.a. menuturkan, “Ketika Allah Swt. menciptakan ‘Arasy, maka Allah memerintahkan para malaikat pemikul ‘Arasy agar memikul ‘Arasy tersebut. Lalu mereka merasa berat memikulnya, maka Allah Swt. berfirman, ‘Bacalah, ‘subhân allâh.’ Para malaikat itu pun membaca, ‘subhân allâh,’ hingga mereka merasa ringan memiku l ‘Arasy.

Malaikat-malaikat itu terus membaca subhân allâh sepanjang masa, sampai Allah SWT menciptakan Nabi Adam. Ketika Nabi Adam bersin, maka Allah SWT. mengilhamkan kepadanya agar membaca al-hamdu li-allâh. Maka, Allah Swt. berfirman, ‘Yarhamuka Rabbuka (semoga Tuhanmu merahmatimu). Karena itulah, Aku mciptakanmu, wahai Adam.’ Para malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat ke dua yang agung, kami tidak boleh melupakan kalimat ini.

Mereka menyambungkan kalimat tersebut dengan kalimat pertama. Sehingga sepanjang masa malaikat mengucapkan, ‘Subhân allâh wal hamdu li-allâh.’ Malaikat-malaikat terus membaca kalimat tersebut sampai Allah mengutus Nabi Nuh a.s.

Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum Nabi Nuh adalah orang pertama yang menjadikan berhala sebagai sesembahan. Lalu Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Nuh agar ia menyuruh kaumnya untuk mengatakan, ‘lâ ilaha illa allâh,’ hingga Allah meridai mereka. Malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat ketiga yang akan kami gabungkan dengan dua kalimat sebelumnya.’

Mereka pun mulai mengatakan Subhân allâh wal hamdu li-allâh wala ilaha illa allâh. Kalimat ini terus diucapkan oleh para malaikat sepanjang masa, sampai Allah SWT mengutus Nabi Ibrahim a.s. Allah Swt. memerintahkan agar Nabi Ibrahim mengurbankan anak kesayangannya, Isma‘il. Kemudian Allah menggantinya dengan seekor domba. Ketika Ibrahim melihat domba itu, maka ia berkata, ‘Allâhu Akbar,’ sebagai luapan kegembiraannya.

Malaikat berkata, ‘Ini adalah kalimat keempat yang agung. Kami akan menggabungkannya dengan tiga kalimat sebelumnya.’ Akhirnya, para malaikat itu mulai mengucapkan, ‘Subhân allâh wal hamdu li-allâh wala ilaha illa allâh wa Allâhu Akbar.’ Waktu malaikat Jibril menceritakan hal ini kepada Rasulullah saw., maka karena kekagumannya, beliau berkata, ‘Lâ hawla wala quwwata illa billah al-‘alî al-‘azhîm.’ Maka, Jibril berkata, ‘Ini adalah kalimat penutup dari empat kalimat sebelumnya.’”

Abu Hurairah r.a. juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Siapa bertasbih kepada Allah 33 kali setiap kali selesai salat; bertahmid kepada Allah sebanyak 33 kali; dan bertakbir kepada Allah 33 kali; maka, totalnya 99 kali. Kemudian ia menggenapkannya menjadi 100 dengan bacaaan ‘Lâ ilaha illâ Allâh wahdahu lâ syarîka lah lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘ala kulli syay’in qadîr. Maka, Allah akan mengampuni semua kesalahan-kesalahannya, meskipun sebanyak buih lautan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan pula bahwa Nabi Musa a.s. mengatakan, “Wahai Tuhanku, bagaimana saya dapat membedakan antara orang yang Engkau cintai dengan orang yang Engkau benci?’ Allah SWT menjawab, ‘Hai Musa, sesungguhnya jika Aku mencintai seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya.’

Musa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apa kedua tanda itu?’ Allah SWT menjawab, ‘Aku akan mengilhamkan kepadanya agar ia berzikir kepada-Ku agar Aku dapat menyebutnya di kerajaan langit dan Aku akan menahannya dari lautan murka-Ku agar ia tidak terjerumus ke dalam azab dan siksa–Ku. Hai Musa, jika Aku membenci seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya.’

Musa bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apa kedua tanda itu?’ Allah SWT menjawab, ‘Aku akan melupakannya berzikir kepada-Ku dan Aku akan melepaskan ikatan antara dirinya dan jiwanya, agar ia terjerumus ke dalam lautan murka-Ku sehingga ia merasakan siksa-Ku.’”

------Syekh 'Abd al-Hamid Anquri dalam Munyah al-Wâ‘ìzhîn wa Ghunyah al-Muta‘azhzhîn

https://www.facebook.com/tasawufunderground/posts/1130326020350664:0

Sunday, November 6, 2016

Hakikat Jalan Sufi Dari Syaikh Abu Hasan Asy Syadzili



Menurut Imam Asy-Syadzili, jalan tasawuf itu bukanlah jalan kerahiban, menyendiri di goa, meninggalkan tanggung jawab sosial, tampak miskin menderita, memakan makanan sisa, pakaian compang-camping dan sebagainya. Tetapi, jalan sufi adalah jalan kesabaran dan keyakinan dalam petunjuk Ilahi.

Allah SWT berfirman, “Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (dalam menegakkan kebenaran) dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.” (QS As-Sajadah [32]: 24-25)

Imam Asy-Syadzili mengatakan, “Pelabuhan (tasawuf) ini sungguh mulia, padanya lima perkara, yakni: sabar, takwa, wara’, yakin dan makrifat. Sabar jika ia disakiti, takwa dengan tidak menyakiti, bersikap wara’ terhadap yang keluar masuk dari sini—beliau menunjuk ke mulutnya—dan pada hatinya, bahwa tidak menerbos masuk ke dalamnya selain apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, serta keyakinan terhadap rezeki (yang diberikan Allah) dan bermakrifat terhadap Al-Haqq, yang tidak akan hina seseorang bersamanya, kepada siapa pun dari makhluk.

Allah SWT berfirman, “Bersabarlah (Hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl [16]: 127-128)

Imam Asy-Syadzili juga mengatakan, “Orang yang berakal adalah orang yang mengenal Allah, apa-apa yang Dia kehendaki atasnya dan apa yang berasal darinya secara syariat. Dan, hal yang Allah inginkan dari seorang hamba adalah empat perkara: adakalanya berupa nikmat atau cobaan, ketaatan ataupun kemaksiatan.

Jika engkau berada dalam kenikmatan, maka Allah menuntutmu untuk bersyukur secara syariat. Jika Allah menghendaki cobaan bagimu, maka Dia menuntutmu untuk bersabar secara syariat. Jika Allah menghendaki ketaatan darimu, maka Allah menuntutmu untuk bersaksi atas anugerah dan taufik-Nya secara syariat. Dan, jika Dia menghendaki kemaksiatan dirimu, maka Allah menuntut dirimu untuk bertobat dan kembali kepada-Nya dengan penyesalan mendalam secara syariat.

Siapa yang mengerti empat perkara ini datang dari Allah dan melakukan apa yang Allah cintai darinya secara syariat, maka dia adalah hamba yang sebenar-benarnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang ketika diberi lalu ia bersyukur, jika ditimpa cobaan dia bersabar, jika dia menzalimi lalu meminta ampun dan jika dia dizalimi lalu memaafkan.” Kamudian Rasul terdiam...Para sahabat pun heran dan bertanya, “Ada hal apa, wahai Rasulullah?”
Kemudian Rasul pun menjawab, “Merekalah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dalam ungkapan sebahagian dari mereka menyebutkan, “Tidak akan dianggap mudah melakukan itu, kecuali bagi seorang hamba yang memiliki cinta. Dia tidak mencintai kecuali karena Allah semata atau mencintai apa yang Allah perintahkan sebagai syariat agamanya.”

--Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili dalam kitab Durrat Al-Asrar wa Tuhfat Al-Abrar karya Muhammad Ibn Abi Qasim Al-Humairi.

Moga bermanfaat!

https://www.facebook.com/tasawufunderground/posts/1127869610596305:0

Tuesday, November 1, 2016

Meniti Tangga-tangga Kenikmatan Ilahiah



Menurut Imam Al-Ghazali, pada perkembangan spiritual tertentu, sebenarnya manusia melalui jenjang kenikmatan. Jenjang kenikmatan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Di awal pertumbuhannya, naluri yang menguasai anak-anak adalah kenikmatan bermain. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada bermain. Lalu, pada perkembangan selanjutnya, ia mulai dikuasai oleh kenikmatan berhias, mengenakan pakaian dan atau menaiki kendaraan. Sejak itu, ia mulai melupakan kenikmatan bermain.

Selanjutnya, manusia mulai dikuasai oleh kenikmatan seksual. Dalam dirinya tumbuh nafsu terhadap lawan jenis. Kenikmatan-kenikmatan sebelumnya perlahan-lahan ditinggal. Sesudah itu, tampaklah baginya bahwa tak ada yang lebih menyenangkan selain mencapai kedudukan tertinggi, menjadi seorang pemimpin atau penguasa dan menumpuk kekayaan. Inilah akhir dari semua kenikmatan.

Kenikmatan paling puncak dan paling kuat ini sesuai dengan firman Allah SWT, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak.” (QS al-Hadid [57]: 20).

Naluri selanjutnya adalah makrifat, yakni mengetahui dan mengenal Allah SWT dengan segala perbuatan-Nya. Pada tingkat ini, manusia akan menganggap bahwa kenikmatan-kenikmatan sebelumnya tidak punya artiapa-apa. Makin akhir kemunculannya, makin kuatlah ia.

Jadi, inilah kenikmatan terakhir yang muncul dalam diri manusia. Sebab,--sebagaimana dijelaskan di atas—kesenangan bermain muncul pada usia anak-anak, kesenangan terhadap hiasan dan lawan jenis muncul pada usia remaja, kesenangan untuk berkuasa muncul pada usia 20 tahun ke atas, kesenangan terhadap ilmu sebagai puncak tertinggi muncul pada usia sekitar 40 tahun.

Anak-anak akan tertawa jika melihat orang yang tak mau bermain dan malah sibuk dengan perempuan dan kekuasaan. Demikian pula seorang penguasa atau orang yang berkuasa, pasti menganggap lucu terhadap orang yang sibuk mendalami makrifat.

Lalu, orang yang bijak akan berkata, “Jika kalian mengejek kami, maka sesungguhnya kami pun mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek (kami). Dan, kelak kalian akan mengetahui.” (QS Hud [11]: 38-39)

---Imam Al-Ghazali dalam Al-Mahabbah

https://www.facebook.com/tasawufunderground/posts/1122689141114352:0

Sunday, October 30, 2016

Pesan Syaikh Ibnu 'Arabi Tentang Cahaya Ilahi



Syekh Ibnu ‘Arabi menuturkan bahwa beberapa orang datang kepada Khalifah Usman r.a. dan bertanya, “Apakah ada manusia setelah pemimpin kita Rasulullah SAW yang menerima wahyu dari Allah?”
Khalifah Usman r.a. pun menjawab, “Ketahuilah bahwa tak seorang pun akan menerima wahyu langsung dari Allah seperti yang beliau (Rasulullah) alami—tetapi aku mendengar beliau bersabda, ‘Berhati-hatilah terhadap firasat orang yang beriman, sebab dia melihat dengan cahaya Allah.’” Dan, dia berkata kepada orang itu, “Kulihat sinar cahaya Ilahi itu dalam matamu sendiri.”

Sinar cahaya Ilahi ini, menurut Syekh Ibnu ‘Arabi, dikaruniakan Allah kepada sebagian orang beruntung tapi yang imannya masih lemah, tujuannya agar hati mereka diperkuat dan didekatkan kepada Tuhan mereka. Namun, sinar ini tak akan tampak, kecuali ia dilindungi dan dilestarikan oleh ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Maka, dengarkanlah apa yang Allah firmankan kepadamu di dalam Al-Quran. Carilah di dalamnya arah bagi perbuatan dan cintamu. Hatimu akan berdegup karena cinta itu jika engkau beriman kepada apa yang kau dengar, dan membuktikannya dengan perbuatanmu.

Jika imanmu lemah dan kau lupa kepada Tuhan, berpegalah kepada tanda-tanda yang telah Allah letakkan di dalam segala sesuatu yang ada di sekitarmu untuk mengingatkan dirimu kepada-Nya. Maka, dengan penegasan dan bukti atas kebenaran tanda-tanda itu,yang diajarkan agamamu, hatimu akan menemukan kekuatan, dan imanmu akan semakin kokoh.

Lalu, jika engkau mampu melihat tanda-tanda kekuasaan Tuhan di sekelilingmu, namun tidak memahami maknanya karena kau kurang melaksanakan latihan batin, maka akibatnya kau mungkin disalahkan (orang lain), bahkan oleh dirimu sendiri, karena yang kau lihat hanyalah sihir atau ilusi belaka.

Ingatlah bahwa alat penglihatan kita adalah bashirah, mata batin—dan tanda orang yang memiliki mata batin ini adalah bahwa perilaku dan akhlak yang indah terungkap dalam perbuatannya. Perbuatan ini merupakan buah dari pemahaman dan pengetahuannya.

Memikirkan tentang makna batin atau spiritualitas dengan Allah mempengaruhi indera dan menajamkan kepekaan, yang memampukan orang untuk melihat berbagai alam gaib. Kaum materialis menolak kemampuan semacam ini. Banyak di antara mereka tidak percaya hal ini. Tetapi, sebenarnya ia merupakan sebuah ilmu yang tak ubahnya seperti ilmu yang lain, yang bergantung pada latihan (riyadhah), percobaan, dan usaha yang terus menerus (mujahadah). Ia merupakan pengetahuan yang diawali dengan iman dan bergantung pada iman.

Dan, kebahagiaan yang diperoleh oleh seseorang dari penglihatan sekilas atas kebenaran, yang dimungkinkan oleh firasat bawaan, karunia Allah, yang dimiliki setiap orang.
Orang yang melihat dengan mata batin ini berarti melihat dengan cahaya Tuhan. Cahaya Tuhan hanya mengungkapkan kebenaran saja. Kenyataan ini, dan pengakuan atasanya, hanya terungkapkan jika firasat bawaan dilengkapi dengan hukum-hukum agama.

Semoga bermanfaat!

--Syekh Ibnu ‘Arabi dalam Kitab Tadbirat al-Ilahiyyah fi Ishlah al-Mamlakah al-Insaniyah.

https://www.facebook.com/tasawufunderground/photos/a.302931509756790.65694.302548766461731/1120227404693859/?type=3

Saturday, October 29, 2016

Zikir Ribu-ribu

Apabila saya tulis ahli zikir, ada yang sudah sampai pusingan zikirnya sehingga 70 ribu, 100 ribu, 1 juta, dan malah lebih daripada itu, seperti biasa, akan ada yang bertanyakan dalil, dan tidak kurang juga yang menolak terus pernyataan jumlah-jumlah itu dengan alasan tabu dan tepu; Nabi tak pernah buat, seolah-olah sudah ditelaah ribuan hadith Baginda Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam.

Maha Suci Allah Ta'ala yang mempedomankan saya kepada hadith berikut ini :

Sayyidatina Sofiyyah radhiyallahu 'anha berkata :

"Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam telah masuk ke bilik saya, dan di hadapan saya terdapat 4 ribu biji tamar yang saya gunakan untuk mengira tasbih saya. Baginda shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda , "Wahai puteri Huyaiy (Sofiyyah), apakah ini?" Saya pun menjawab, "Biji tamar yang saya gunakan untuk bertasbih." Baginda shollallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sejak saya datang berdiri di samping kamu, saya telah bertasbih lebih banyak daripada itu." Saya pun berkata, "Ajarkanlah kepada saya wahai Rasulullah." Baginda bersabda, "Saya bertasbih SubhanAllahi 'adada ma khalaqa min syai-in" (yang bermaksud saya bertasbih Maha Suci Allah sebanyak bilangan sesuatu yang telah dijadikan oleh Allah Ta'ala)." - [Mustadrak Hakim].

Nota :

1] Sayyidatina Sofiyyah bertasbih sebanyak 4 ribu bilangan biji tamar, Rasulullah tidak melarang.
2] Rasulullah juga tidak melarang penggunaan biji tamar sebagai alat pengiraan atau 'tasbih'. Jadi tidak ada masalah penggunaan 'biji tasbih'.
3] Rasulullah menyatakan bahawa Baginda bertasbih lebih banyak daripada bilangan 4 ribu, dalam erti kata boleh jadi 10 ribu, 100 ribu, 1 juta, dan lebih lagi daripada itu.

****

Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahawa Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahawa Allah Ta'ala berfirman :

"Apabila seseorang hamba mengingatiKu, dan bibirnya bergerak-gerak kerana mengingatiKu, maka Aku bersama dengannya." - [Ibnu Majah].

محمد حافظ الفنداني |

https://www.facebook.com/hafiz.fandani/posts/10211835192741244

Friday, October 28, 2016

Sopan Santun Ala Sufi



Dzu Nun Al-Mishri mengatakan, “Jika seorang murid telah keluar dari kesopanan, berarti dia kembali dari mana asal dia datang.” Allah SWT berfirman, “Dan, (ingatlah kisah) Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS Al-Anbiya: 83)

Menurut Syekh Abu Ali Ad-Daqaqq, pada ayat ini, Nabi Ayyub a.s. tidak mengatakan “Ya Allah kasihanilah aku” karena Ayub telah menjaga kesopanan pada Tuhan yang dimintainya.
Demikian juga Nabi Isa a.s. ketika mengatakan, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu.” (QS Al-Maidah: 118).

Nabi Isa a.s. tidak mengatakan permintaannya secara terus terang untuk menjaga kesopanan di hadapan Allah.
Imam Al-Junaid, yang juga dikenal dengan panggilan akrab Abu Qasim, menceritakan bahwa di hari Jumat ada beberapa orang kaya dan terhormat datang kepadaku dan mengatakan, “Kirimkanlah seorang yang miskin bersamaku agar dia datang kepadaku dengan senang hati dan makan-makan bersamaku.”

Lalu, tiba-tiba, aku bertemu dengan seorang yang tampak miskin. Aku melihat dia sangat kelaparan, lalu aku panggil dia dan kukatakan padanya, “Hai saudaraku! Pergilah bersama Syekh ini dan hiburlah dia!”

Orang miskin ini pun menuruti perintahku. Dia pergi bersama tamu-tamuku itu ke rumahnya. Tetapi, sejurus kemudian, tiba-tiba, salah seorang tamuku datang menghampiriku dan mengatakan, “Wahai Abu Qasim, lelaki miskin ini tidak makan kecuali hanya sesuap saja. Lalu, dia pergi meninggalkan kami?!”

“Mungkin kalian mengatakan kata-kata yang tak sopan?” tanyaku.
“Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab salah satu tamuku.
Aku pun berpaling, dan kulihat lelaki miskin itu sedang duduk di sudut rumahku. Aku bertanya kepadanya, “Kenapa tak kau sempurnakan kebahagiaan mereka?”

“Wahai tuanku, aku keluar dari Kuffah menuju Baghdad tanpa makan apa pun. Aku tidak ingin tampak kurang sopan di hadapan tuan hanya karena rasa laparku. Ketika tuan memanggilku, aku sangat senang sekali. Karena, hal itu merupakan awal dari perkenalanku dengan tuan yang sangat kukagumi. Aku menuruti perintah tuan untuk ikut bersama mereka, sedangkan aku tidak rela mendapatkan surga karena itu. Aku menginginkan sesuatu yang lebih tinggi. Ketika aku duduk dekat meja makan mereka, dia memberi aku sesuap makanan sambil berkata, ‘Makanlah! Makanan ini lebih aku senangi daripada seribu dirham.’ Aku mendengar ucapan ini. Aku tahu bahwa niatnya kurang baik. Karena itu, aku berusaha makan sesuap saja.’”

Setelah mendengar ucapan lelaki miskin ini, Imam Al-Junaid berkata pada orang kaya ini, “Ternyata benar apa yang kutakan padamu tadi. Engkau memang telah berlaku kurang sopan kepadanya!”
“Wahai Abu Qasim, aku sangat menyesal...”
“Sekarang, pergilah bersamanya! Kini giliranmu menghibur lelaki miskin itu!” perintah Al-Junaid.

--Risalah Al-Qusyairiyah karya Imam Al-Qusyairi

https://www.facebook.com/tasawufunderground/posts/1118061578243775:0

Tanpa Naungan Khalifah

Lagi 8 tahun (2024), maka genaplah satu abad umat Islam hidup tanpa naungan khalifah. Keadaan ini berpunca daripada peristiwa yang berlaku 100 tahun yang lalu: peristiwa Al-Thawra Al-Arabiyya Al-Kubra atau dalam Bahasa Inggeris “The Great Arab Revolt”. Oktober 2016 ialah masa yang paling sesuai untuk memperingati peristiwa ini.

Sekitar Oktober 1916, Kapten T. E. Lawrence atau “Lawrence of Arabia” tiba di Madinah dan bertemu dengan Amir Faisal, putera sulung kepada Sharif Hussein, pemerintah Haramain (“Penjaga Dua Kota Suci” lantikan Khalifah) yang berketurunan Banu Hashim. Misi Lawrence sebagai wakil Empayar Britain adalah untuk merancang strategi bersama keluarga Sharif untuk menyerang kubu Madinah yang dipertahankan oleh Fakhri Pasha, seorang jeneral Khilafah Turki Uthmaniyyah (“Ottoman”) yang handal. Kehadiran Lawrence menyusuli persetujuan Sharif Hussein dan Henry McMahon, Pesuruhjaya Tinggi Britain di Mesir, untuk bersama-sama menentang Khilafah Uthmaniyyah.

Ketika itu Perang Dunia Pertama (WW1) telah berlangsung dua tahun lebih di antara Pakatan Britain-Perancis-Russia dan Pakatan Jerman-Austria. Kerajaan Khilafah Turki Uthmaniyyah yang ketika itu dikuasai oleh “Tiga Pasha” (Talaat Pasha, Enver Pasha, Djemal Pasha) telah menyertai pakatan Jerman, walaupun tidak dipersetujui oleh Khalifah Mahmud V (Mehmed V). Keluarga Sharif yang telah lama tidak berpuas hati dengan pemerintahan Turki, membuat keputusan untuk berpakat dengan Britain demi membebaskan bangsa Arab daripada pemerintahan Turki (sebenarnya, tak ramai pun Arab yang sokong keluarga Sharif). Britain telah memberi janji yang lumayan bahawa Britain akan menyokong Sharif untuk menjadi khalifah kepada dunia Arab.

Namun, apa yang tidak diketahui oleh Sharif ialah perjanjian rahsia di antara Britain dan Perancis yang bernama Perjanjian Sykes-Picot. Al-maklum lah waktu itu tiada WikiLeaks. Menurut perjanjian tersebut, wilayah Uthmaniyah selepas perang akan dibahagikan di antara Britain dan Perancis. Setahun kemudian (1917), Britain juga mengadakan Perjanjian Balfour dengan keluarga Rothschild, penaja gerakan Zionisme bahawa Britain akan mewujudkan sebuah negara Yahudi (“Jewish national home”) di Palestin.

Selepas tamatnya WW1, wilayah Turki Uthmaniyyah dibelah bahagi menurut Perjanjian Sykes-Picot. Perancis mendapat Syria dan Lebanon; Britain mendapat Palestin, Jordan dan Iraq. Britain tidak mengotakan janji McMahon terhadap Sharif. Malah, Britain memberi bantuan senjata kepada musuh Banu Hashim iaitu Bani As-Saud untuk memerangi Sharif. Belum sempat lagi Sharif menubuhkan khilafah, keluarga As-Saud telah pun menawan Makkah dan Madinah pada tahun 1924 dan keluarga Sharif terpaksa meninggalkan Haramain. Keluarga As-Saud menubuhkan kerajaan yang bernama Arab Saudi.

Manakala di Turki, para pemenang WW1 (Britain, Itali, Greece) cuba menguasai Turki. Mustafa Kemal telah bangkit menentang penceroboh-penceroboh asing. Mustafa Kemal menubuhkan Republik Turki dan dihormati sebagai Ataturk (“Bapa Bangsa Turki”). Pada 3 Mac 1924, Khilafah dimansuhkan. Khalifah ke-101, Sultan Abdul Majid II (Abdulmecid II) dibuang negeri. Apa yang berlaku di Turki selepas itu, semua dah sedia maklum.

Tentu ada pengajaran (ibrah) di sebalik sejarah. Kedua-dua Turki Uthmaniyyah dan keluarga Sharif, dan umat Islam secara keseluruhan ialah “mangsa geopolitik” yang kena “game” dengan percaturan kuasa-kuasa besar dunia. Britain sebenarnya hanya menganggap keluarga Sharif sebagai satu anak catur untuk menjatuhkan Uthmaniyyah dan membolehkan Britain menguasai Mashriq (kawasan di antara Laut Mediterranean dan Sungai Euphrates) yang strategik.

Begitu juga dengan Jerman. Bukannya Jerman nak buat pakatan dengan Turki sebab pro-Islam. Sebab-sebabnya hanya: kerana ada musuh yang sama dengan Turki iaitu Russia; dan kerana nak cari titik “pivot” di Teluk Parsi untuk melancarkan kuasa (“projecting power”) ke Lautan Hindi yang dikuasai Britain. Begitu juga dengan Hitler semasa Perang Dunia Kedua. Bukannya Hitler anti Yahudi sebab dia sokong perjuangan Palestin, tapi Hitler hanya menggunakan anti-Semitisme untuk mencari sokongan di kalangan negara-negara Arab.

Sudahkah kita mengambil pengajaran?

last_caliph_14591622_10205535619429474_4934116336207559385_n


Dalam gambar: Amir Faisal ibn Hussein menghadiri Persidangan Keamanan Paris (Paris Peace Conference) di mana pemenang-pemenang WW1 mengadakan rundingan. Lelaki ke-3 dari kanan (sebelah bahu kiri Faisal) ialah T. E. Lawrence. Lawrence agak bersimpati dengan keluarga Sharif dan telah mendapatkan hak memerintah Jordan dan Iraq untuk keluarga Sharif. Pemerintahan keluarga Faisal di Iraq digulingkan dalam kudeta berdarah pada tahun 1958, manakala keturunan Amir Abdullah, putera kedua Sharif masih memerintah Jordan sehingga pada hari ini.

Sumber:
Firas Alkhateeb (2014), Lost Islamic History: Reclaiming Muslim Civilisation from the Past
Eugene Rogan (2015), The Fall of the Ottomans: the Great War in the Middle East, 1914-1920
Ian Rutledge (2015), Enemy on the Euphrates: the British Occupation of Iraq and the Great Arab Revolt, 1914-1921