Monday, January 15, 2018

Umur Ummat Muhammad - Suatu Analisa

Ramai di broadcest sosial media yang menyebutkan kalau usia umat Muhammad tidak lebih dari 1500 tahun, juga dalam ceramah mubaligh yang cukup dikenal Ust Dzulkifli M Ali. Berikut diantara linknya : https://www.youtube.com/watch?v=vphAuz13q-I
Mohon penjelasan dari ustadz AST.

Jawaban
Sebenarnya ramalan bahwa usia umat Muhammad tidak akan sampai 1500 tahun bukan hal baru, ini sudah pernah membuat heboh umat Islam diera 90-an  ketika  muncul sebuah buku yang  berjudul Huru-hara Akhir. Buku ini ditulis oleh seorang yang bernama Amin Muhammad Jamaluddin dengan judul asli Harmajiddun Akhir Bayan Ya Ummat Al-Islam. Dan broadcest yang sekarang beredar di sosial media sama sekali tidak ada yang baru, semua menjiplak habis isi buku tersebut.
Bila kita telaah isi buku tersebut, juga broadcest dan isi ceramah dari al Ustadz M Ali, dapat kita lacak bahwa semuanya memiliki keyword: Kitab al Fitan, pendapat Ibnu Hajar al Asqalani, As Suyuti dan Rajab al Hanbali.  Kita akan focuskan bahasan pada kata kunci diatas, agar pembahasan tidak panjang bertele-tele. Dan mungkin dibahasan terpisah, kita akan membahas kualitas hadits-hadits yang digunakan dalam buku dan artikel broadscest  tersebut.

1.      Kitab al Fitan dan pengarangnya
Kitab al Fitan ditulis oleh Nu’aim bin Hammad al-Marwazi (229 H/844 M).  Dan mengenai dirinya para ulama hadits berbeda pendapat, imam Ahmad menstiqahkannya, namun mayoritas ulama hadits melemahkannya.
An-Nasa’i berkata tentangnya: “Dia seorang yang dha’if (lemah)”, Abu Daud berkata: “Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dua puluh hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang tidak mempunyai dasar sanad.”[1]
 Imam Al-Azdi mengatakan: “Dia termasuk orang yang memalsukan hadits dalam membela As-Sunnah, dan membuat kisah-kisah palsu tentang keburukan An-Nu’man (maksudnya, Abu Hanifah, pent), yang semuanya itu adalah kedustaan.”[2] 

Ibnu Hibban berkata tentang dia: “Suka salah dan bimbang.” Ibnu Yunus mengatakan: “Dia meriwayatkan hadits-hadits munkar dari orang-orang yang bisa dpercaya.”[3]
Sedangkan mengenai kitab al Fitan adz Dzahabi berkata : 

لا يجوز لاحد أن يحتج به، وقد صنف كتاب " الفتن " فأتى فيه بعجائب ومناكير
“Tidak diperbolehkan seorangpun untuk berhujjah dengannya dan sungguh ia telah menulis kitab Al Fitan maka ia mendatangkan di dalamnya riwayat-riwayat yang mengherankan dan riwayat-riwayat mungkar.”[4]  
Diantara riwayat yang tercantum dalam kitab al fitan adalah sebuah hadits palsu[5] berikut ini :

قَالَ نُعَيْمٌ بْنُ حَمَّادٍ : حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ قَالَ : حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “إذا كانَتْ صَيْحَةٌ في رمضان فإنه تكون مَعْمَعَةٌ في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتُسْفَكُ الدِّماءُ في ذي الحجة والمحرم.. قال: قلنا: وما الصيحة يا سول الله؟ قال: هذه في النصف من رمضان ليلة الجمعة فتكون هدة توقظ النائم وتقعد القائم وتخرج العواتق من خدورهن في ليلة جمعة في سنة كثيرة الزلازل ، فإذا صَلَّيْتُمْ الفَجْرَ من يوم الجمعة فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم، وسدوا كواكـم، ودَثِّرُوْا أَنْفُسَكُمْ، وَسُـدُّوْا آذَانَكُمْ إذا أَحْسَسْتُمْ بالصيحة فَخَرُّوْا للهِ سجدًا، وَقُوْلُوْا سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ ، ربنا القدوس فَمَنْ يَفْعَلُ ذَلك نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ)

Nu’aim bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku, pent) di bulan Dzul Qo’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram…”. Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan solat Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, kerana barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa”.

Dalam buku dan artikel tersebut juga terdapat tadlis (penipuan), misalnya dengan menyatakan bahwa sebuah  riwayat berasal dari al Imam Bukhari, sehingga orang yang tidak memiliki kemampuan melacak kebenaran pernyataan ini akan langsung mengaggap bahwa riwayat tersebut shahih. Padahal penisbahan tersebut tidak benar. Dalam dunia ilmu, hal seperti ini termasuk kejahatan dan cacat yang sangat serius.

2.      Perkataan Ulama yang dinukil
Karena Broadcest permasalahan membawa-bawa nama 3 ulama yakni Suyuthi, Ibnu Hajar dan Ibnu Rajab, saya kemudian mencoba melacak dalam kita-kitab mereka, dan memang penyandaran itu benar.  Jadi penulis dalam hal ini tidak melakukan tadlis (penipuan) sebagaimana yang dituduhkan oleh beberapa ustadz yang juga mencounter artikel tersebut. Hanya seperti apakah yang sebenarnya / mari kita simak penjelasannya. 

1.      Imam Jalaluddin as Suyûthi (w. 911 H)
Dalam kitabnya, Al Hâwi lil Fatâwa, 2/104, beliau menyatakan :
الَّذِي دَلَّتْ عَلَيْهِ الْآثَارُ أَنَّ مُدَّةَ هَذِهِ الْأُمَّةِ تَزِيدُ عَلَى أَلْفِ سَنَةٍ، وَلَا تَبْلُغُ الزِّيَادَةُ عَلَيْهَا خَمْسَمِائَةِ سَنَةٍ
“Yang ditunjukkan oleh sejumlah riwayat (atsar) bahwa waktu (durasi) umat ini adalah lebih dari seribu tahun, namun lebihnya tidak sampai lebih dari 500 tahun.”

2.      Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H)
Dalam kitabnya, Fathul Bâry, 4/449 beliau menyatakan:
وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ بَقَاءَ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَزِيدُ عَلَى الْأَلْفِ لِأَنَّهُ يَقْتَضِي أَنَّ مُدَّةَ الْيَهُودِ نَظِيرُ مُدَّتَيِ النَّصَارَى وَالْمُسْلِمِينَ وَقَدِ اتَّفَقَ أَهْلُ النَّقْلِ عَلَى أَنَّ مُدَّةَ الْيَهُودِ إِلَى بَعْثَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ أَلْفَيْ سَنَةٍ وَمُدَّةَ النَّصَارَى مِنْ ذَلِكَ سِتُّمِائَةٍ وَقِيلَ أَقَلُّ فَتَكُونُ مُدَّةُ الْمُسْلِمِينَ أَكْثَرَ مِنْ أَلْفٍ قَطْعًا
“(Hadits ini) dijadikan dalil bahwa keberlangsungan (umur) umat ini mencapai lebih dari seribu tahun, sebab hadits ini menuntut bahwa waktu Yahudi setara dengan gabungan waktu Nasrani dan muslimin. Dan sesungguhnya para ahli riwayat telah sepakat bahwa jangka waktu yang dilalui umat Yahudi hingga diutusnya Nabi adalah lebih dari 2000 tahun, sedangkan waktu yang dilalui Nasrani hingga diutusnya Nabi adalah 600 tahun, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu, sehingga waktu yang akan dilalui kaum muslimin pasti lebih dari seribu tahun”
3.      Imam Ibnu Rajab al Hambali (w. 795 H)
Dalam kitabnya Fathul Bari pada juz 4 hal 343, ia menyatakan  
وقد قدمنا: أن حديث ابن عمر الذي خرجه البخاري هاهنا يدل على أن مدة الدنيا كلها كيوم وليلة، وأن مدة الأمم الثلاث أصحاب الشرائع المتبعة قريب من نصف ذلك، وهو قدر يوم تام، وأن مدة اليهود منه إلى ظهور عيسى حيث كانت أعمالهم صالحة تنفعهم عند الله كما بين صلاة الصبح إلى صلاة الظهر، ومدة النصارى إلى ظهور محمد – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حيث كانت أعمالهم صالحة مقبولة كما بين صلاةِ الظهر والعصر، ومدة المسلمين منه من صلاة العصر إلى غروب الشمس، وذلك في الزمان المعتدل قدر ربع النهار، وهو قدر ثمن الليل والنهار كما سبق ذكره وتقديره.
“Dan telah kami sampaikan: bahwa hadits Ibnu ‘Umar yang dikeluarkan oleh al Buhari di sini menunjukkan bahwa masa (berlangsungnya) dunia seluruhnya seperti masa sehari semalam, dan masa tiga umat penganut syari’at-syari’at itu hampir setengahnya, yakni sekitar sehari penuh, dan masa Yahudi hingga diutusnya Isa , dari sisi amal shalih mereka bermanfaat, adalah seperti antara shalat subuh hingga dzhuhur, dan masa Nashrani hingga lahirnya Nabi Muhammad, dari sisi amal shalih mereka diterima ,adalah seperti antara shalat dzuhur dengan ashar, dan masa kaum muslimin adalah dari shalat ashar hingga terbenam matahari, dan yang demikian itu, dalam ukuran waktu yang sedang adalah sekitar ¼ hari, dan sekitar 1/8 dari sehari semalam sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.”

Penjelasan
Apa yang dinyatakan oleh para ulama diatas sama sekali tidak bisa menjadi legitimasi pemahaman bahwa umur umat Muhammad kurang dari 1500 tahun, hal ini karena beberapa alasan :

1.      Semua hanya pendapat dan dugaan
            Setelah membaca apa yang dinyatakan oleh para ulama diatas, kita langsung bisa menyimpulkan bahwa semuanya keterangan diatas adalah pendapat dan dugaan, bukan dalil  yang qath’i. Hal ini sebagaimana yang diakui sendiri oleh al Imam Ibnu Rajab al Hanbali : “Apa-apa yang disebut dalam (pembahasan) yang demikian itu hanyalah merupakan perkiraan-perkiraan yang tidak berfaedah kepastian (‘ilm).[6]
As-Sakhawy berkata : “Ibnu Katsir menegaskan Demikian pula hadits-hadits tentang pembatasan hari Kiamat secara pasti, semuanya tidak shahih sanadnya.”[7]

2.      Kesalahan data
Tanpa mengurangi rasa hormat dan pengagungan kita kepada para ulama, khususnya mereka rahumahumullah yang mencoba menduga kapan tahun terjadinya kiamat, ternyata kita dapatkan data bahwa para ulama tersebut telah keliru dalam analisanya.
Ambil contoh imam Suyuti beliau juga berkata dalam kitabnya yang berjudul “Al-Al-Kasyf An Mujaawazah Hadzihi Ummah Al-Alf” menyimpulkan bahwa kiamat akan terjadi di awal abad 15 H. Ini jelas kesalahan yang fatal, karena kita sekarang saja sudah berada dipertengahan abad ke-15.
Maka para ulama bersuara lantang mengkritik karya beliau tersebut. Al-Allaamah Shiddiq Hasan Khaan, beliau berkata, “Sekarang sudah lebih dari 1300 tahun, namun Imam Mahdi belum juga keluar,  Nabi Isa belum turun, Dajjal juga belum datang,  Semua ini menunjukkan bahwa prediksi ini tidaklah benar !”[8]

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha juga membantah pendapat imam As-Suyuthy secara panjang lebar, diantaranya beliau berkata “Sepertinya, buku beliau dibangun di atas dua hadits palsu dan dusta.”[9]

3.      Bertentangan dengan fakta
Jika kiamat terjadi pada tahun 1500 H berarti sisa umur umat Muhammad adalah 1500 -1438 H = 62 tahun. Ini jelas kesalahan fakta yang fatal. Karena sebelum kiamat benar-benar terjadi, akan bermunculan terlebih dahulu tanda-tandanya, padahalkenyataannya dari sekian tanda kiamat, baik tanda kecil maupun besar,  masih banyak yang belum muncul.
Belum lagi bila ditambah dengan  tempo  tegaknya khilafah Rasyidah, tempo 120 tahun setelah matahari terbit dari barat, juga empo 40 tahun dari keberadaan Isa Al-Masih setelah terbunuhnya Dajjal, tempo 3 tahun ketika Isa menggantikan kepemimpinan seorang lelaki Bani Tamim, tempo 100 tahun setelah semua orang beriman diwafatkan melalui berhembusnya angin baik.

4.      Bertentangan dengan dalil umum
Bila pendapat diatas dipaksakan sebagai dalil penetapan terjadinya kiamat, - padahal para ulama tersebut tidak memaksudkan demikian -  maka akan bertentangan dengan dalil-dalil yang dengan tegas menyatakan bahwa hari kiamat waktunya hanya Allah yang mengetahui, Firman Allah ta’ala :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ

“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “kapankah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia…” (QS. Al-A’raf 187)
Al  Imam As Sakhawi berkata : “Setiap riwayat yang menyebutkan batasan hari kiamat dengan ta’yin (penetapan), adakalanya tidak ada asalna atau tidak kuat sanadnya.”[10]

Mengingat ini hanya prediksi tanpa dasar yang jelas, dan murni pendapat, terlebih itu bertentangan dengan prinsip yang diajarkan dalam syariat, maka tidak selayaknya kita jadikan sebagai acuan.

Sedangkan agama kita dibangun diatas dasar ilmu dan keyakinan. Jangan sampai nanti ketika cara beragama kita hanya berdasarkan dugaan, dan ternyata dugaan itu tidak terbukti, justru umat Islam akan menolak kebenaran yang sudah pasti.

Penutup
Tidak banyak manfaatnya kita membahas dan menganalisa terlalu jauh kapan kiamat akan terjadi. Yang lebih penting bagi kita adalah senantiasa mempersiapkan bekal diri untuk menuju negeri akhirat.  Berkata Shalahuddin Maqbul Ahmad, “Hikmah utama di balik dirahasiakannya waktu Kiamat dan kematian yaitu agar mendorong seorang hamba untuk tetap aktif beramal ketaatan, menjauhi kemaksiatan dan selalu khawatir jangan-jangan kematian menjemputnya secara tiba-tiba.”[11]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ada orang arab badui yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kapan kiamat.  Beliau justru balik bertanya,

وَيْلَكَ، وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا

“Celaka kamu, apa yang kamu persiapkan untuk kiamat ?”(HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).

Wallahu a’lam.


[1] Adh-Dhu’afa wa Al-Matrukin (1/101).

[2] Mizan Al-I’tidal (4/267).

[3] Siyar A’lamin Nubala, 10/595)

[4] Siyaar A’lam An Nubalaa’( 10/60)

[5] Dalam sanadnya ada rawi yang majhul : abdul Wahab bin Muhsin, pendusta :  al Harits bin abdullah. Lihat al Mustadrak (no 8590), Tahdzib (9/72)

[6] Fathul Bari li Ibn Rajab (4/343).

[7] Al-Ajwibah Al-Mardhiyyah (1/96).

[8] Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyah (2/66), Al-Idzaa’ah, hal. 184.

[9] Tafsir al Manar (9/470-482),

[10] Al Maqâsidul Hasanah hal 693.


[11] Al-Yaum Al-Aakhir, hal. 5.

http://www.konsultasislam.com/2017/08/umur-umat-muhammad-1500-tahun-saja.html

Sahihkah Hadith Jibril Melihat Syurga dan Neraka?

Assalamualaikum ustaz Rozaimi. Smg Allah sentiasa mengurniakan kesihatan & keberkatan masa utk berdakwah jalan Allah Amin.
Ustaz boleh tanya
Hadith atau riwayat ini betul ke tidak?
Apbila telah neraka itu di jadikan .
Lalu di perintahkan malaikat Jibril melihatkan lihat sekeliling neraka itu .
Dan mencari apa kah ciri ciri yg menyebabkan manusia di masukan ke neraka ..
Jawab jibril .
Hampir tiada manusia yg bisa selamat dari neraka
Semua perkara yg amat disukai untuk dilakukan oleh manusia .
Ada di neraka ..
Apabila syurga itu telah siap di jadikan lalu di perintahkan malaikat Jibril meninjau ninjau alam sekeliling syurga .
""Siapa kah yg layak untuk mendiami syurga KU ."
Jawab Jibril .
Hampir Semua manusia tidak layak masuk ke syurga Allah .
Kerana semua perkara yg manusia SUKA lakukan di dunia
Tiada disyurga
Semua perkara yg TIDAK disukai manusia
Jawapan:
Waalaikumussalam wbt.
Ia merupakan hadis yang sahih.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
Abu Hurairah radiallahu 'anhu meriwayatkan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
" لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ أَرْسَلَ جِبْرِيلَ إِلَى الْجَنَّةِ ، فَقَالَ :
Apabila Allah telah menciptakan syurga dan neraka, Dia menghantar Jibril ke syurga, lalu Allah berkata (kepada Jibril):
انْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا ،
Engkau lihatlah (syurga itu) dan apa yang telah aku sediakan untuk penghuninya.
قَالَ : فَجَاءَهَا وَنَظَرَ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعَدَّ اللَّهُ لِأَهْلِهَا فِيهَا ،
Lalu Jibril pun pergi ke syurga. Dia melihat syurga itu dan apa yang telah Allah sediakan untuk penghuninya.
قَالَ : فَرَجَعَ إِلَيْهِ قَالَ : فَوَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا ،
Lalu Jibril pun pulang kepada Nya dan berkata: Demi kemuliaan Mu. Tiada seorang pun yang mendengar (tentang syurga) kecuali dia pasti akan memasukinya.
فَأَمَرَ بِهَا فَحُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ ،
Lalu Allah menyuruh agar syurga ditutupi dengan perkara-perkara yang tidak disukai.
فَقَالَ : ارْجِعْ إِلَيْهَا فَانْظُرْ إِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا ،
Kemudian Allah berkata (kepada Jibril): Kembalilah ke syurga, dan lihat apa yang telah sediakan untuk penghuninya.
قَالَ : فَرَجَعَ إِلَيْهَا فَإِذَا هِيَ قَدْ حُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ ،
Jibril kembali ke syurga, dan ketika itu syurga telah ditutupi dengan perkara-perkara yang tidak disukai.
فَرَجَعَ إِلَيْهِ فَقَالَ : وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خِفْتُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا أَحَدٌ ،
Lalu Jibril kembali kepada Allah dan berkata: Demi kemuliaan Mu. Engkau telah mengaburi syurga sehingga tiada seorang pun dapat memasukinya.
قَالَ : اذْهَبْ إِلَى النَّارِ ، فَانْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا ،
Allah berkata (kepada Jibril): Pergilah ke neraka. Lihatlah keadaannya dan apa yang telah Aku sediakan untuk penghuninya.
فَإِذَا هِيَ يَرْكَبُ بَعْضُهَا بَعْضًا ، فَرَجَعَ إِلَيْهِ ،
Neraka ketika itu dalam keadaan tindih menindih di atas satu sama lain, kemudian Jibril pulang kepada Allah.
.
فَقَالَ : وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ فَيَدْخُلَهَا ،
Jibril pun berkata: Demi kemuliaan Mu. Tiada seorang pun yang mendengar tentangnya mahu memasukinya.
فَأَمَرَ بِهَا فَحُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ ، فَقَالَ : ارْجِعْ إِلَيْهَا ،
Lalu Allah menyuruh neraka ditutupi dengan perkara-perkara yang disukai. Allah pun berkata kepada Jibril: Pulanglah ke neraka.
فَرَجَعَ إِلَيْهَا فَقَالَ : وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَنْجُوَ مِنْهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا "
Jibril pun pulang ke neraka lalu dia berkata: Demi kemuliaan Mu. Aku takut tiada seorang terselamat daripada memasukinya.
[Sunan at-Tirmizi, Kitab Sifat al-Jannah, hadis no: 2758, hasan sahih]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ ‏"‏‏.‏
Daripada Abu Hurairah radiallahu 'anhu, Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Neraka diselaputi perkara-perkara yang disukai, manakala syurga diselaputi perkara-perkara yang tidak disukai.
[Sahih al-Bukhari, Kitab al-Riqaq, Bab Hujibat an-Nar bi al-Syahwat, hadis no: 6487]
Al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah menghuraikan dalam Fathul Bari:
فإن المراد بالمكاره هنا ما أمر المكلف بمجاهدة نفسه فيه فعلا وتركا كالإتيان بالعبادات على وجهها والمحافظة عليها
Yang dimaksudkan dengan 'perkara-perkara yang tidak disukai' dalam hadis ini ialah apa-apa sahaja urusan yang menuntut seseorang untuk melawan nafsunya demi melaksanakan hal tersebut atau meninggalkan sesuatu hal yang lain. Seperti melakukan ibadah dengan ikhlas, dan memeliharan ibadah tersebut.
واجتناب المنهيات قولا وفعلا.
Termasuk jua meninggalkan perkara-perkara yang dilarang daripada segi perkataan mahupun perbuatan.
وأطلق عليها المكاره لمشقتها على العامل وصعوبتها عليه ومن جملتها الصبر على المصيبة والتسليم لأمر الله فيها
Ia dinamakan 'perkara-perkara yang tidak disukai' kerana kesukaran dan kepayahan untuk melaksanakannya. Keindahan yang ada pada hal ini ialah kesabaran apabila datangnya musibah, dan penyerahan diri kepada segala perintah Allah.
والمراد بالشهوات ما يستلذ من أمور الدنيا مما منع الشرع من تعاطيه إما بالأصالة وإما لكون فعله يستلزم ترك شيء من المأمورات
Yang dimaksudkan dengan 'perkara-perkara yang menggoda jiwa' ialah apa-apa yang seronok daripada urusan dunia, sama ada ia daripada perkara yang memang asalnya adalah dilarang daripada dilakukan, atau pun sesuatu perkara (yang asalnya harus) tetapi menyebabkan pelakunya meninggalkan melakukan sesuatu yang disuruh.
ويلتحق بذلك الشبهات والإكثار مما أبيح خشية أن يوقع في المحرم
Termasuk di dalamnya juga ialah melakukan perkara-perkara syubhat dan berlebih-lebihan melakukan perkara yang harus sehingga terjerumus ke dalam perkara yang haram.
فكأنه قال لا يوصل إلى الجنة إلا بارتكاب المشقات المعبر عنها بالمكروهات ولا إلى النار إلا بتعاطي الشهوات
Dalam hadis ini, seolah-olah baginda sallallahu 'alaihi wasallam ingin berkata bahawa seseorang itu tidak akan sampai ke syurga melainkan terpaksa melalui kesusahan yang memang tidak disukai. Dan tidak pula seseorang akan sampai ke neraka melainkan dengan melakukan perkara-perkara yang memenuhi kehendak nafsu.
-ADMIN-

Sunday, January 14, 2018

Umur Ummat Nabi Muhammad

Perihal Khilafat Ummah:

Dari Nukman bin Basyir, katanya, ‘Suatu ketika kami sedang duduk2 di Masjid Nabawi dan Basyir itu seorang yg tidak banyak bercakap.Datanglah Abu Saklabah lalu berkata ” Wahai Basyir bin Saad, adakah kamu hafaz hadis Rasulullah tentang para pemerintah?’

Huzaifah RA lalu segera menjawab.” Aku hafal akan khutbah Rasulullah SAW itu.” Maka duduklah Abu Saklabah Al Khusyna untuk mendengar hadis berkenaan.

Maka kata Huzaifah RA, Rasulullah SAW telah bersabda. “Telah berlaku Zaman Kenabian ke atas kamu, maka berlakulah Zaman Kenabian sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkat zaman itu seperti yg Dia kehendaki.

”Kemudian belakulah zaman Kekhalifahan (Khulafaur Rasyidin) yang berjalan sepertimana Zaman Kenabian. Maka berlakulah zaman itu sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya.

Lalu berlakulah zaman raja-raja yang zalim ( malikun a’adhun/zaman kesultanan ). Berlakulah zaman itu seperti yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya pula.

Kemudian berlakulah zaman penguasa diktator (mulkan jabbariyan/penguasa yang memaksakan ideologi yang bukan ideologi islam, dan hukum yang bukan dari hukum islam) dan berlakulah zaman itu seperti mana yang Allah kehendaki.

Kemudian berlakulah pula zaman kekhalifahan yang berjalan di atas cara hidup Zaman Kenabian.”

Kemudian Rasulullah SAW pun diam.

(Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalam kitabnya Musnad Al Imam Ahmad bin Hanbal, Juzuk 4, halaman 273.Juga terdapat dalam kitab As-Silsilatus Sahihah, Jilid 1, hadis nombor 5.]

1. Zaman Kenabian (Nubuwwah) dan rahmat
2. Zaman Khulafaurrasyidin dan rahmat
3. Zaman pemerintahan raja-raja yang zalim (kerajaan-kerajaan Islam)
4. Zaman penguasa diktator pembawa fasad dan kegelapan
5. Zaman Khalifah atau Ummah kedua yang berjalan diatas cara hidup zaman kenabian yakni zaman pemerintahan Imam Mahdi dan Nabi Isa.

Zaman Nubuwwah (Kenabian) dan Zaman Khulafaurrasyidin. Zaman ini adalah zaman pemerintahan di bawah Rasulullah dan zaman pemerintahan di bawah khalifah 4 (Sayyidina Abu Bakar as Siddiq, Sayyidina Umar al Faruq, Sayyidina Utsman bin Affan, dan Sayyidina Ali). Dua zaman pertama ini mempunyai banyak kesamaan, dan dikenal juga sebagai Zaman Ummah Awwal.

Telah berkata akan Imam Malik RA:


لان يصليها أخري هذه الأمه إلا ما أصلها أولها

Lan yusliha akhiri hazihi ummah illa ma aslaha awwaluha

"Tidak akan sekali-kali dipulihkan akan ummat yang akhir ini melainkan kembali kepada cara pemulihan ummat yang terdahulunya (Para Sohabah RA) [ash-Shifaa of Qaadee ‘Iyyaadh, (2/676)]

Perihal Umur Ummah:

Perihal umur umat Nabi SAW. 3 pendapat dari ulama-ulama yang terkenal dalam ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yaitu dari:

1. Al Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dari Mazhab Syafi’i

2. Jalaluddin As Suyuthi (Imam Suyuthi)

3. Imam Ibnu Rajab al Hanbali

Kita menganggap pendapat mereka bertiga sangat rasional, sehingga sebagaimana tujuan para Imam itu menyeru kepada manusia agar senantiasa bersiap diri dan mengerjakan amal ibadah yang banyak, maka demikian pula halnya dengan kita yang berharap agar manusia yang tertidur kembali terjaga, agar manusia yang lalai dalam agamanya menjadi kembali kepada sunnah Rasulnya, dan agar kita mati dan menghadap ALLAH subhanahu wa ta’ala dalam keadaan ridha dan diridhai.

(I) AL HAFIDZ IBNU HAJAR

Hadits riwayat Al Bukhari yang artinya:

Perumpamaan kaum Muslimin dan Yahudi serta Nasrani, seperti perumpamaan seorang yang mengupah satu kaum (Yahudi) untuk melakukan sebuah pekerjaan sampai malam hari, namun mereka melakukannya hanya sampai tengah hari. Lalu mereka pun berkata, “Kami tidak membutuhkan upah yang engkau janjikan pada kami, dan apa yang telah kami kerjakan, semuanya bagi-mu”.

Ia pun berkata, “Jangan kalian lakukan hal itu, sempurnakanlah sisa waktu pekerjaan kalian dan ambillah upah kalian dengan sempurna”.

Mereka (Yahudi) pun menolak dan meninggalkan orang itu. Maka orang itu mengupah beberapa orang (Nasrani) selain mereka (Yahudi), ia berkata: “Kerjakanlah sisa hari kalian dan bagi kalian upah yang telah aku janjikan untuk mereka (Yahudi)”.

Sehingga ketika tiba waktu sholat Ashar, mereka (Nasrani) berkata, “Ambillah apa yang telah kami kerjakan untukmu dan juga upah yang engkau sediakan untuk kami.”

Orang itu berkata, “Sesungguhnya sisa waktu siang tinggal sedikit.”

Mereka (Nasrani) tetap menolak, sehingga orang itu mengupah satu kaum yang lain (Muslimin) untuk melanjutkan pekerjaan sehingga selesai sisa hari mereka (Nasrani).

Maka kaum itu (Muslimin) pun bekerja pada sisa hari mereka (Nasrani), yaitu sehingga terbenamnya matahari dan mereka pun mendapat upah yang sempurna yang dijanjikan kepada dua kelompok sebelumnya.

Seperti itulah perumpamaan mereka (Yahudi dan Nasrani) dan perumpamaan apa yang kalian (Muslimin) terima pada cahaya (hidayah) ini.

(HR Al Bukhari. Lihat Fathul-Kabir juz V hlm. 202 no: 5728)

Adapun penjelasan hadits ini menurut Al Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani: “Para Ahli Naql telah sepakat bahwa masa (umur) bangsa Yahudi–sejak diutusnya Musa as–sampai diutusnya Muhammad saw adalah lebih dari 2000 tahun. Dan umur Nasrani dari jumlah itu sebanyak 600 tahun. Satu pendapat mengatakan lebih sedikit dari itu” (Fathul-Barri juz IV hlm. 449)

Ini artinya, umur Yahudi ialah 2000 tahun lebih – 600 = 1400 tahun lebih.

Menurut para ahli sejarah, “lebih” yang dimaksud adalah seratus tahun lebih sedikit, sehingga umur umat Yahudi adalah kurang lebih 1500 tahun.

Masa 600 tahun untuk umur Nasrani itu berdasarkan HR Al Bukhari dari Salman, “Masa fatrah (kekosongan) antara Nabi 'Isa AS dan Nabi Muhammad SAW adalah 600 tahun.”.

Adapun ‘tambahan’ umur untuk umat Muhammad terdapat dalam hadits berikut:

“Sesungguhnya Allah tidak akan melemahkanku, yaitu pada umatku, jika Ia mengulur (umur) mereka setengah hari, yaitu 500 tahun.”

(HR Abu Nu’aim dalam Al Hilyah. Lihat Fathul Kabir juz II hlm. 126 No: 1807)

Jadi, umur umat Muhammad saw = umur umat Yahudi – umur umat Nasrani = 1500 (lebih sedikit) – 600 = 900 tahun lebih sedikit ditambah 500 tahun = 1400 tahun lebih sedikit.

Lebih sedikit ini, menurut para ahli sejarah, sekitar 100 tahun. Maka dapat disimpulkan, umur umat Islam adalah sekitar 1500 tahun.

Maka menurut pendapat Ibnu Hajar:

Umur umat Yahudi adalah umur umat Nasrani ditambah dengan umur umat Islam.

Para ahli sejarah mengatakan bahwa Umur umat Yahudi yang dihitung dari diutusnya Nabi Musa alaihis salam hingga diutusnya Nabi Isa alaihis salam adalah 1500 tahun.

Kemudian dengan adanya hadis:

Dari Salman Al Farisi ia bercerita bahwa “Masa-masa antara Isa dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah selama 600 tahun”. [HR. Bukhari]

Sehingga umur umat Nasrani yang dihitung dari sejak diutusnya Nabi Isa 'alaihis salam hingga diutusnya Nabi Muhammad sollallahu ‘alaihi wasallam adalah 600 tahun.

Sehingga akan didapat:

Umur Yahudi = Umur Nasrani + Umur Islam

1500 tahun = 600 tahun + 900 tahun

Kemudian Ibnu Hajar dalam Kitabnya mengatakan adanya tambahan 500 tahun sesuai hadis marfu yaitu:

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya saya berharap agar umatku tidak akan lemah di depan Tuhan mereka dengan mengundurkan (mengulurkan) umur mereka selama setengah hari”. Kemudian Sa’ad ditanyai orang: Berapakah lamanya setengah hari itu? Ia (Sa’ad) menjawab: “Lima ratus tahun”.

[Hadis sohih riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al Hakim, Abu Nu’aim]

Jadi jumlah umur Islam menurut Ibnu Hajar adalah 900 + 500 tahun = 1400 tahun lebih.

Sekarang kita berada di tahun 1434 Hijriah (2013 Masehi), berarti sudah melepasi lebih dari 1400 tahun itu. Sedangkan tambahan yang dimaksud itu mungkin adalah umur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Islam adalah agama yang dibawa oleh beliau.

Juga ditambah dengan 13 tahun karena awal penulisan tahun Hijriah dimulai pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Dan 13 tahun adalah ketika beliau di Makkah.

Sehingga umur Islam adalah:

1400 + 63 (umur Nabi) + 13 (tahun sebelum hijrah) = 1476 tahun

Jika dikurangi dengan masa kita hidup ini iaitu 2006 Masehi atau 1427 Hijirah, berarti 1476 – 1434 = 42 tahun.

“42 tahun adalah sisa umur umat Islam dari hari ini.”

Hanya ALLAH yang mengetahuinya. Maka sebagai manusia yang berakal dan beriman, sudah sepantasnya kita bersiap siaga dengan memantapkan kesatuan ummah dan memperbaiki segala amal ibadah.

(II) IMAM AS SUYUTHI

Menurut Imam Suyuthi:

Umur umat Islam adalah jumlah umur dunia dikurangi dengan umur-umur Nabi/Rasul sejak Nabi Adam alaihi salam hingga diutusnya Nabi Muhammad SAW

Perhitungan umur umat Islam menurut beliau terdiri dari 3 bahagian iaitu:

(1) Perhitungan umur dunia

(2) Perhitungan umur umat-umat yang terdahulu sejak Nabi Adam hingga diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

(3) Perhitungan jarak waktu sejak ditutupnya pintu taubat (yaitu sejak matahari terbit di barat) hingga ketika Tiupan Pertama sangkakala kiamat.

Dimana kemudian akan didapat rumus bahwa:

Umur umat Islam = [1. Umur dunia] – [2. Umur umat terdahulu] – [3. Jarak waktu]

(1) Perhitungan umur dunia

Dari Abu Hurairah ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hari yang terbit matahari padanya yang paling baik adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya, dan tidak akan terjadi hari kiamat kecuali pada hari jumat.

[HR. Muslim, Tirmizi & Ahmad]

Dari hadis diatas diketahui bahwa perhitungan umur dunia dihitung sejak dikeluarkannya Nabi Adam alaihis salam ke bumi hingga saat kiamat adalah dari hari Jumat ke hari Jumat, yaitu berlalu selama 1 minggu akhirat (7 hari akhirat).

Sedangkan dalam Al Quran surah 32 As Sajdah ayat 5 yang berbunyi:

“DIA mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-NYA dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”.

Maka dapat diketahui bahwa 1 (satu) hari disisi ALLAH itu adalah 1000 tahun dunia. Jadi umur dunia adalah 7000 tahun.

2) Perhitungan umat yang terdahulu

Dari Ibnu Abbas, dari (cerita) Rasulullah sollallahu ‘alaihi wasallam (kepadanya), kemudian ia berkata: “Umur Adam adalah 1000 tahun”. Kemudian ia berkata: Antara Adam dengan Nuh adalah 1000 tahun, dan antara Nuh dengan Ibrahim adalah 1000 tahun, dan antara Ibrahim dengan Musa adalah 700 tahun, dan antara Musa dengan Isa adalah 1500 tahun, sedangkan antara Isa dengan Nabi kita adalah 600 tahun.

[HR. Hakim]

Jadi dapat dihitung bahwa masa (umur umat terdahulu) adalah 1000 + 1000 + 700 + 1500 + 600 = 4800 tahun.

Nabi Adam adalah manusia pertama, sehingga umur dunia tidak dihitung dari tahun sebelum Adam, melainkan dihitung sejak beliau diturunkan ke bumi.

(3) Perhitungan waktu antara terbitnya matahari dari arah barat hingga ditiupnya sangkakala kiamat

Hadis-hadis yang menerangkan tentang perhitungan waktu ini adalah:

1. Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Manusia akan menetap setelah terbitnya matahari dari tempatnya terbenam selama 120 tahun.”

(Hadits sohih mauquf riwayat Ahmad, Thabrani, Ibnu Abu Syibah dan Abdul Razzaq, Al Haitsami mengatakan para perawinya wara' dan terpercaya)

2. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jarak waktu antara dua tiupan itu adalah empat puluh. Mereka bertanya: Wahai Abu Hurairah, apakah 40 hari? Ia menjawab: Aku tidak dapat menyebutkan. Mereka bertanya lagi: 40 bulan? Ia menjawab (kembali): Aku tidak dapat menyebutkan. Mereka bertanya lagi: 40 tahun? Ia (kembali) menjawab : Aku tidak dapat menyebutkan. Kemudian ALLAH menurunkan hujan, sehingga mayat-mayat tumbuh (bangkit) seperti tumbuhnya tanaman sayuran. Tidak ada satu bagian tubuh manusia kecuali semua telah hancur selain satu tulang, yaitu tulang ekornya dan dari tulang itulah jasad manusia akan disusun kembali pada hari kiamat.

(HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad & Malik)

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ALLAH mengumpulkan orang-orang yang awal dan orang-orang yang yang terakhir pada suatu hari yang dimaklumkan yaitu selama 40 (empat puluh) tahun dalam keadaan menengadah dan membeliakkan kedua mata mereka ke langit untuk menunggu keputusan pengadilan dan ALLAH akan turun dalam lindungan awan-awan.

(Hadis hasan riwayat Adz Dzahabi)

4. Dalam suatu hadis sohih (dari Saad bin Abi Waqash) dikatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Hari dimana manusia akan berdiri menghadap Tuhan semesta alam adalah selama setengah hari. (Beliau menerangkan Al Quran surah ke-83 Al Muthaffifin).

Sudah kita ketahui bahwa setengah hari akhirat adalah 500 tahun. Hal ini bersesuaian dengan hadis Bukhari dan Muslim yang mengatakan bahwa “Kaum fakir miskin akan memasuki sorga sebelum orang- orang kaya selama setengah hari yaitu selama 500 tahun.

Perhitungan waktu menjelang al sa'ah (kiamat) adalah sebagai berikut:

1. Dihitung sejak terbit matahari dari arah Barat adalah karena setelah perkara itu terjadi maka tidak ada lagi dosa yang diampuni, segala pintu tobat ditutup, dan tidak diterima lagi syahadat. Artinya tidak ada lagi Islam.

2. Dan diakhiri hingga manusia berdiri di padang Mahsyar menghadap ALLAH adalah karena saat itu manusia baru dibangkitkan dari kubur dan belum dihisab.

3. Dari hadis-hadis di depan, maka kita ketahui jarak waktu:

Matahari dari arah barat ~ tiupan pertama = 120 tahun

Tiupan pertama ~ tiupan kedua = 40 tahun

Tiupan kedua ~ kebangkitan seluruh manusia = 40 tahun

Kebangkitan ~ perhisaban (penentuan sorga dan neraka) = 500 tahun

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa jarak waktu dari terbitnya matahari dari arah Barat hingga berdiri di padang Mahsyar adalah 120 + 40 + 40 + 500 = 700 tahun


Kesimpulan perhitungan Imam Suyuthi:

Umur dunia = umur umat terdahulu + umur umat Islam + masa hari akhir

Telah kita ketahui bahwa:

Perhitungan umur dunia adalah 7000 tahun

Perhitungan umur umat-umat terdahulu adalah 4800 tahun

Perhitungan masa sejak ditolaknya syahadat hingga kiamat adalah 700 tahun

Sehingga dapat dihitung,

Umur umat Islam = 7000 – 4800 – 700 = 1500 tahun

Kemudian dikurangi dengan masa kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga didapat bahwa sisa umur umat Islam adalah: 1500 – 23 = 1477 tahun

Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak diutusnya Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau wafat adalah 23 tahun, dimana 13 tahun beliau SAW berada di Makkah, kemudian diperintahkan ALLAH untuk hijrah ke Madinah, disini beliau berdakwah hingga beliau wafat selama 10 tahun. Dan penulisan taqwim Hijriah dihitung pada saat beliau Hijrah.

Imam Suyuthi menambahkan dalam kitabnya yang berjudul Al Kassaf ketika menerangkan tentang keluarnya Imam Mahdi ‘alaihis salam berkata: “Hadis-hadis hanya menunjukkan bahwa masa-masa (umur) umat ini (Islam) lebih dari 1000 tahun dan tambahannya sama sekali tidak lebih dari 500 tahun.

Jika umur Islam = 1477 tahun, dan sekarang kita berada di tahun 2013 Masehi atau 1434 Hijriah.

Maka sisa umur Islam adalah: 1477 – 1434 = 43 tahun.

“43 tahun adalah sisa umur umat Islam sejak masa ini.”


(III) IMAM IBNU RAJAB AL HANBALI

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Sesungguhnya masa menetap kamu dibandingkan dengan umat-umat yang telah berlalu adalah seperti jarak waktu antara salat Ashar hingga terbenamnya matahari.

Hadis diatas diriwayatkan dari Ibnu Umar oleh Imam Bukhari. Dan menurut penafsiran Ibnu Rajab, “umat-umat yang telah berlalu” itu adalah umat Nabi Musa (yahudi) dan umat Nabi Isa (nasrani) karena ada hadis sahih lain yang berbunyi seperti itu yang intinya membandingkan Islam dengan Ahli Kitab.

Beliau telah meletakkan keseluruhan masa dunia adalah seperti satu hari penuh dengan siang dan malamnya. Beliau menjadikan waktu yang telah berlalu dari umat-umat terdahulu dari masa Nabi Adam hingga Nabi Musa seperti waktu satu malam dari hari tersebut, dan waktu itu adalah 3000 tahun. Kemudian beliau menjadikan masa umat-umat yahudi, nasrani dan Islam adalah seperti waktu siang dari hari tersebut, maka berarti waktu itu juga 3000 tahun.

Kemudian beliau mentafsirkan hadis Bukhari lainnya bahwa masa-masa amaliah umat Bani Israil (umat Nabi Musa) hingga datangnya Nabi Isa seperti setengah hari pertama, dan masa amaliah umat Isa adalah seperti waktu salat Zuhur hingga salat Ashar, dan masa amaliah umat Islam adalah seperti sesudah salat Ashar hingga terbenamnya matahari.

Jadi perhitungan menurut Ibnu Rajab itu sebagai berikut:

Masa umat-umat Adam hingga Musa = satu malam penuh = 3000 tahun

Masa umat-umat (yahudi – nasrani – Islam) = satu siang penuh = 3000 tahun

Umur Yahudi = setengah hari dari siang tersebut = ½ dari 3000 = 1500 tahun

Umur Nasrani = mengikuti hadis Muslim dari Salman al Farisi yaitu = 600 tahun

Maka umur umat Islam adalah 1500 – 600 = 900 tahun. Kemudian 900 tahun ini ditambahkan lagi 500 tahun (setengah hari akhirat) sebagaimana hadis dari Saad bin Abu Waqash riwayat Abu Dawud, Ahmad (yang ada dihalaman terdahulu).

Sehingga umur Islam menurut Ibnu Rajab adalah 900 + 500 = 1400 tahun, belum termasuk tambahan tahun. Namun beliau tidak menyebut berapa tahun tambahannya.

Perhitungan ini sama dengan method yang digunakan oleh Ibnu Hajar.

KESIMPULAN TIGA PENDAPAT

1.Umur Umat Islam menurut Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah 1476 tahun. Atau sisa 42 tahun lagi dari sekarang (2013).

2.Umur Umat Islam menurut Jalaluddin As-Suyuthi adalah 1477 tahun. Atau sisa 43 tahun lagi dari sekarang (2013).

3.Umur Umat Islam menurut Ibnu Rajab Al-Hanbali adalah lebih dari 1400 tahun.


https://al-faedah.blogspot.my/2013/06/umur-umat-nabi-saw-1500-tahun.html

Sunday, December 3, 2017

Bahagian Akal

Siti 'Aisyah radhiAllahu 'anha berkata; "Akal itu ada 10 bahagian, (pada diri seseorang) lima daripadanya kelihatan (secara zahir) dan sebaliknya yang lima tidak kelihatan (kerana bersifat batin)." 5 yg kelihatan itu; (1) bersifat diam, (2) Sabar, (3) merendah diri, (4) menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan (5) suka berbuat kebaikan. 

Manakala baki 5 yg tdk kelihatan, ialah; (1) berfikir, (2) memberi contoh pengajaran, (3) menganggap dosa sbg masalah yg besar, (4) takut kpd Allah, dan (5) mengekang keinginan (hawa nafsu) dan mengalahkannya. - Hayatul Qulubi

Sunday, November 19, 2017

Syarah Ayyuhal Walad

Dari Syeikh Ibrahim bin Adham : "Aku telah banyak bergaul dengan kebanyakan para wali Allah, mereka memberi wasiat pada kami, yaitu: "Jika kalian pulang kepada anak dunia (manusia) maka berikan mereka 4 perkara :

1. Siapa yang banyak makan, niscaya dia tidak akan mendapatkan kelezatan dalam ibadah.
2. Siapa yang banyak tidur, niscaya dia tidak akan mendapatkan keberkahan pada umurnya.
3. Siapa yang tidak rela meninggalkan keridhaan manusia, niscaya dia tidak akan mendapat keridhaan Allah.
4. Siapa yang banyak berbicara hal-hal yang tidak berfaedah dan sia-sia maka dia tidak akan keluar dari dunia dengan Iman."


4 perkara yang akan membawa seseorang kepada Maqam Muqarrabin (Dekat dengan Allah) walaupun sedikit ilmu dan amalannya :
1. Lemah lembut (Kasih sayang dan pemaaf).
2. Dermawan (Memberi walau tidak diminta).
3. Baik budi pekertinya.
4. Tawadhu’ (Rendah hati).

4 waktu yang harus dimiliki oleh seseorang dalam kesehariannya :
1.Waktu untuk bermunajah (Mengadu kepada Allah).
2.Waktu untuk bermuhasabah (Intropeksi diri).
3.Waktu untuk duduk dengan ulama, menolongnya dan mengambil nasehat darinya atau menuntut ilmu darinya.
4.Waktu untuk menyendiri dan bertafakkur tentang kelezatan dan nikmat pada sesuatu yang halal (dibolehkan) dan indahnya karunia yang Allah berikan kepada kita.

Wallahu a’lam.
Kitab Syarah Ayyuhal Walad

Saturday, October 14, 2017

Keutamaan Duduk

Suatu waktu dahulu, dalam kelas Falsafah dan pemikiran Islam, ada seorang pelajar bertanya kepada saya, perlukah dia menyertai salah satu dari gerakan2 yang ada disekelilingnya bagi memenuhi tuntutan fardu kifayah? Pada masa yang sama, beberapa minggu sebelumnya ada beberapa rakannya yang sengaja tidak menghadiri kuliah saya bagi berkumpul demi menuntut keadilan untuk membebaskan pemimpin yang mereka sokong. Bagi kumpulan yang kedua saya katakan kepada mereka dalam pada menuntut bela keadilan jangan melakukan kezaliman! Pertamanya saya kata mereka telah menzalimi hak saya sebagai guru mereka, akan tetapi yang lebih utama adalah mereka telah menzalimi diri mereka untuk melengkapkan diri dengan Ilmu yang secukupnya bagi membebaskan diri dari belenggu pemikiran dan bagi mengelakkan diri dari melakukan kezaliman bila tiba giliran mereka untuk menjadi pemimpin kelak.


Saya kisahkan kepada mereka tentang satu peristiwa dizaman dahulu akan seorang Sufi dengan beberapa muridnya yang memohon nasihat saat fitnah berleluasa, maka beliau menuliskan huruf ‘Jim’ sebagai suatu isharat yang beliau tahu anak muridnya akan tafsirkan berdasarkan tahap pemahaman mereka. Maka satu darinya menganggap ia membawa maksud ‘Jabal’(gunung) yakni supaya melarikan diri kegunung dan memencilkan diri sehinggalah fitnah tersebut selesai. Yang satu lagi menganggap huruf itu membawa maksud ‘Junun’(gila) lantas beliau mengambil langkah supaya berpura-pura menyerupai orang yang kurang siuman supaya nanti tidak menjadi mangsa fitnah. Yang ketiga, dan yang saya kira yang paling utama bagi melawankan bahaya fitnah adalah ‘Jalis’(duduk) yakni pergilah duduk dengan ‘alim ‘Ulama dan ‘Awliya dalam majlis Ilmu, zikir dan menghitung-hitung diri supaya dapat membebaskan diri dari belenggu fitnah tadi, sehingga nanti tidak mudah terkeliru dan ditelan fitnah yang membanjir itu, sesuai dengan sabda Nabi; duduklah dengan para Kubara’(yakni orang-orang tua yang memiliki pengalaman) banyaklah bertanya pada Kaum ‘ulama, dan mendekat dan bermesralah dengan Hukama, yakni golongan yang memiliki ilmu dan adab yang kini sangat nadir.


Saya teringat nasihat guru kami Prof Wan Mohd Nor yang menuliskan sajak risalah untuk para aktivis kepada kami di waktu kami berkumpul di Melaka dahulu ‘ Orang muda itu ibarat kuda arab yang liar, kalau kami boleh tambat ia tentunya nanti sangat berguna demi melancarkan peperangan, jika tidak boleh sahaja yang menunggangnya terlambung tercedera dan yang sekelilingnya pun mendapat musibat!. Akan tetapi yang lebih saya gemari dari nasihatnya adalah ketika penggal pertama saya di CASIS bila dipanggil kebiliknya seraya saya langsung bertanya ‘Adakah kerana saya terlalu banyak bersoal tanya?’ maka jawab beliau ‘ Bahkan itu baik, cuma mungkin kalau saya boleh nasihatkan, terkadang jikalau kami menghidangkan kopi, tiada semestinya salahnya kopi, kalau cawannya masih terlalu kecil’ Maka saya fahami waktu itu bahawa pernyataan-pernyataan Pemikir sepertinya memakan masa untuk dihadam, kerana walaupun kelihatan singkat merupakan mutiara yang telah digilap selama puluhan tahun, tambahan pula ditadah dan peroleh melalui pelbagai keutusan akali, pelbagai kaedah dan hujah dicubanya sebelum sampai akhirnya pada maknanya! Kemudian pula bila saya menyadari akan peranan kerangka Ilmu dan pandangan Alam dalam membentuk dan membataskan ilmu yang diterima, saya kira wajar kalau ditambah, terkadang kalau cawan sedia dengan bekas minuman coklat, sememangnya si peminum tak merasa kopi tapi mocha sentiasa! Maka jelaslah bahawa tugas menuntut ilmu bukannya ringan lebih-lebih lagi bila sedar kita akan cabaran zaman. Kita harus insaf akan apa yang ditulis Imam Al-Ghazali dalam kitab ‘Ilmu.
‘Ilmu tidak akan memberikan sebahagian darinya kecuali sesudah kita memberikan seluruh upaya kita’.

https://www.facebook.com/notes/syed-muhammad-muhiyuddin-al-attas/keutamaan-duduk/10154837405512985/

Friday, October 13, 2017

Epistemological Differences of Data, Information, Knowledge, Insighte and Wisdom

I think the best example to show the difference between all these epistemological elements lie in statistics, which in my case, marks statistics:

1. You collect student marks. That is DATA (HISS).

2. You arrange them in various ways; ascending order, in tables etc. so that a pattern can emerge and inform you about how the students perform. This is INFORMATION (MA'LUMĀT).

3. You use the information to come up with a general/universal/abstract approximation of how the students perform. This approximation can be in the form of the statistical mean, median, or mode. This is KNOWLEDGE ('ILM).

But knowledge can be beneficial, useful, harmful to you, or harmful to everyone. If finding the mean spurs you into positive action to improve student understanding, this is BENEFICIAL KNOWLEDGE. If it doesn't spur you into action, this is USELESS KNOWLEDGE. If it is used by school leaders as currency for blame game henceforth affecting your confidence to teach, and subsequently lead to poorer teaching methods, this is HARMFUL KNOWLEDGE.

4. You use the statistical mean to improve your teaching practices consistently over a period of time, such that it becomes a habit of mind (malakah). As you use them, you gradually become enlightened as to why and how you use them in different situations. For instance, you know that in some particular cases, the knowledge of the statistical mean would not be useful to inform you about your lesson delivery. This is INSIGHT (HADS).

5. With experienced application of the statistical mean as part of your teaching practices, it dawned upon you on how exactly you would apply them in different situations such that only positive outcomes get produced. This is WISDOM (HIKMAH).



https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10154867535005143&set=a.206691620142.140845.583180142&type=3&theater