Sunday, June 18, 2023

Tawadhu

 Tawadu’ (تواضُعُ) adalah ‘keadaan seseorang menundukkan diri, meletakkan diri di peringkat rendah’. Kata nama ini diambil dari kata kerja tawada’a (تواضَعَ) dari wazan bahasa Arab (تفاعَلَ). Kata akar perbuatan ini ialah (وَضَعَ) yakni ‘letak; meletakkan’. 

Menurut al-Qushayri dalam Risalah al-Qushayriyyah, tawadu’ ialah ’penyerahan kepada kebenaran’ (الاستسلام للحق), manakala menurut Fudayl bin ‘Iyad, tawadu’ ialah ‘tunduk kepada kebenaran’ (تخضع للحق). 

Apabila seseorang itu dikatakan tawadu’, dia harus merendahkan diri kepada kebenaran. 

Tawadu’ bukan hanya ‘berpura-pura merendah diri, memakai pakaian compang camping, nampak lemah dan tidak terganggu dengan duniawi supaya digelar tawadu’. Tetapi ini juga tidak mustahil memang salah satu makna wazan تفاعل ialah ‘berpura-pura’. Sebagai contoh, ‘tidur’ (نام), ‘pura-pura tidur’ (تنَاوَمَ). 

Begitu juga tawadu’ bermaksud  ‘tahu meletakkan maruah diri di tempatnya yang betul’. Khususnya juga orang berilmu, iaitu tahu di mana mahu menyampaikan ilmu, tahu khalayak ilmunya, tahu dengan siapa berkawan, tahu bila mahu berdebat dan sebagainya. Paling penting juga, tahu meletakkan diri di ‘medan peperangan’ yang sebenar.

Thursday, June 8, 2023

Wednesday, June 7, 2023

Perbezaan Murid dan Murad dalam Ilmu Tarikat

 (FAEDAH) PERBEZAAN ANTARA MURID DAN MURAD DALAM ILMU THORIQAT.


Syeikhuna Tuan Guru Syeikh Ibrahim Masran Al-Banjari Hafizahullah ketika menjelaskan istilah Murid dan Murad, beliau berkata:


“Istilah Murid dan Murad ini mempunyai makna yang berbeza dalam ilmu thoriqah. Para ulama’ tasawwuf telah menjelaskannya dalam kitab-kitab karangan mereka. Di antaranya ialah Sultanul Auliya’ Saiyidi Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani radhiyallahu ‘anhu dalam kitabnya Al-Ghunyah. Boleh rujuk dalam kitab tersebut.


Diriwayatkan bahawa Al-Imam Al-Junaid radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya mengenai Murid dan Murad. Lalu beliau menjawab:


المريد تتولاه سياسة العلم، والمراد تتولاه رعاية الحق


"Murid dilindungi oleh siyasatul 'ilm, sementara Murad dilindungi oleh ri'ayatul Haqq, yakni Allah.


Imam Al-Junaid radhiyallahu ‘anhu juga berkata:


المريد يسير، والمراد يطير، فمتى يلحق السائر الطائر؟


“Murid itu berjalan, sementara Murad itu terbang. Maka bilakah orang yang berjalan mampu mengejar orang yang terbang?”


Daripada kenyataan Imam Al-Junaid ini, rahimahullah, kita dapat lihat bahawa perbezaan makna istilah Murid dan Murad ini adalah perbezaan yang merujuk kepada maqam, darjat dan kemuliaan seseorang salik ilallah.


Selain itu, para ulama’ tasawwuf mengatakan perbezaan antara Murid dan Murad itu, dengan bahawa:


• Murid itu mencari, sementara Murad itu dicari.


• Murid itu maujud, sementara Murad itu fan, yakni lebur.


• Murid itu mendekat, sedangkan Murad itu didekati.


• Murid itu dilindungi, sementara Murad itu melindungi, atau diminta perlindungan dengannya.


• Murid beramal dengan meniti satu jalan, sedangkan Murad di atas keseluruhan jalan.


• Murid memandang dengan cahaya Allah, sementara Murad memandang dengan Allah.


• Ibadah Murid adalah mujahadah, sementara ibadah Murad adalah mauhibah, yakni anugerah atau pemberian Allah.


• Murid mengerjakan amal dengan memandang imbalan, sementara Murad tidak memandang amal, bahkan memandang semuanya itu adalah taufiq dan anugerah Allah.


• Murid melakukan aktivitinya atas dasar perintah Allah, sementara Murad pula dengan perbuatan Allah.


• Murid menentang hawa nafsunya, sementara Murad bebas dari kehendak dan angan-angannya.


• Murid adalah mubtadi, sementara Murad adalah muntahi. Yakni Murid itu adalah pemula dalam perjalanannya menuju Allah, sementara Murad itu adalah orang yang sudah sampai di kemuncak jalan.


• Murid itu masih mendaki, sementara Murad itu sudah wusul dan sampai kepada Tuhan yang merupakan capaian tertinggi. Dan di sisi Tuhan, dia mendapatkan segala hal yang istimewa, yang berharga, yang lembut dan yang murni, sehingga melampaui setiap ahli ibadah yang taat, suka mendekatkan diri, berbakti, dan bertakwa.


• Murid diuji dengan kelelahan, sementara Murad diperlakukan dengan kelembutan.


• Murid adalah orang yang menerima kesusahan, keletihan dan tidak sunyi dari mengalami penderitaan, sedangkan Murad adalah orang yang menerima perintah dan menghadapi segala sesuatu tanpa merasa beban.”


Kata syeikhuna: “Dan ini sudah menjadi sunnatullah bahawa salik yang masih mubtadi perlu menempuh jalan mujahadah untuk wusul kepada-Nya. Jika sudah mencapai-Nya, maka segala beban itu akan dihilangkan daripada dirinya. Maka dia pun mendapat keringanan dalam menjalankan berbagai amalan nafilah dan meninggalkan syahwat.


Nah, ketika itu, dia hanya mencukupkan dirinya dengan ibadah fardu dan mengurangkan kesibukan ibadah sunnah. Hati dan maqam ruhaninya tetap terjaga. Batinnya terputus dari hubungan dengan selain Allah. Dia tidak lagi memerhatikan hati-hati manusia. Secara zahiriah dia kelihatan bercampur-baur bersama makhluk Allah, namun pada batinnya dia tetap bersama Allah Azza wa Jalla.


Lisannya selalu berhias dengan hikmah-hikmah Allah. Hatinya dipenuhi dengan ilmu Allah. Lisannya digunakan untuk menasihati hamba-hamba Allah. Sir di dalam hati nuraninya diberi kepercayaan untuk menjaga titipan-titipan Allah.

Thursday, May 18, 2023

Tentang Berteman

 Habib Taufiq Abdul Qadir Assegaf berkata; Dikatakan oleh salaf;

Jangan kamu bertemu kecuali satu diantara dua orang ini:

1. Orang yang kamu bisa belajar darinya ilmu agama kamu (orang alim)

2. Orang yang bisa kamu ajarinya ilmu (agama)



Nasihat Ali Zainal Abidin:

Jangan berteman dengan 5 orang:

1. Jangan berteman dengan ahmaq - bodoh tapi rasa pandai.

2. Jangan berteman dengan yang bakhil.

3. Jangan berteman dengan yang fasiq (yang lakukan dosa besar atau gemar lakukan dosa kecil)

4. Jangan berteman dengan yang suka bohong

5. Jangan berteman dengan yang memutus silaturrahim

A Brief Excerpt from Hydration of the Soul

 Abdul Aziz Suraqah

11h

  · 

A Brief Excerpt from Hydration of the Soul: A Commentary on The Drink of the People of Purity

The Shaykh says: 'Therefore, the one who travels by his [the Prophet’s] Supreme Ascension Point will have travelled the ascension points of every [master]; but the one who relinquishes it and clings instead to the secondary ascension points will find his journey arduous. And it is no secret that he will succumb to disruptions, extreme distance, vast wilderness, aimless wandering, and will be made to carry a burdensome load!'

COMMENTARY

According to Shaykh Muhammad al-Qandusi, the one who forsakes or diminishes the importance of the Supreme Ascension Point and focuses instead on the secondary ascension points as his means of drawing near to Allah and attaining the station of Ihsan will have a tough time of it. It is wayfaring (suluk), but he will “find his journey arduous” and difficult to endure in this age of dissolution and decline.

[…]

The one who relinquishes the Supreme Ascension Point while applying himself to the secondary ascension points will, as the Shaykh says, “succumb to disruptions, extreme distance, vast wilderness, aimless wandering, and will be made to carry a burdensome load.” Indeed, in this age of bewilderment and decay, where the Eschaton is not a distant future or a looming event over the horizon, but something in our midst, saturating everything around us, it has become abundantly clear that a Muslim in this age who forgoes the Original Path and clings instead to secondary methods developed in the past will suffer from everything of which the Shaykh speaks—sooner or later.

   The one who relinquishes the Supreme Ascension Point of invoking prayers upon the Prophet Muhammad (Allah bless him and give him peace) will succumb to disruptions. His wayfaring will be marked with frequent starting and stopping. For every two steps he takes he will take three steps back, if not more. For every degree of spiritual progress he makes, he will face obstacles that block the path and halt his progress.

   The one who relinquishes the Supreme Ascension Point of invoking prayers upon the Prophet Muhammad (Allah bless him and give him peace) will succumb to extreme distance. His wayfaring will bring him negative isolation spiritually and even socially. What is near will be made far; what is easy will be made difficult; and what is clear will be obscured.

   The one who relinquishes the Supreme Ascension Point of invoking prayers upon the Prophet Muhammad (Allah bless him and give him peace) will succumb to vast wilderness. His wayfaring will leave him stranded in wild metaphorical forests teeming with dangers. Threats will lurk in the shadows, lying in wait to attack him. Deep in the uncharted wilderness he will find neither a path nor an experienced guide; instead, he will find pitfalls, brigands, and predators in the form of charlatans and false-shaykhs.

   The one who relinquishes the Supreme Ascension Point of invoking prayers upon the Prophet Muhammad (Allah bless him and give him peace) will succumb to aimless wandering. He will wander from this method to that method, this formula of dhikr to that formula of dhikr, this gathering to that gathering. 

   The one who relinquishes the Supreme Ascension Point of invoking prayers upon the Prophet Muhammad (Allah bless him and give him peace) will be made to carry a burdensome load. He will be burdened with taking powerful medicines that are inappropriate for his spiritual constitution and condition; he will be burdened with replicating in this latter age (Akhir al-Zaman) what suited people of a different age, and will be made to feel guilty for his inability to bear it. 

   The one who does not realize the time he is in and the collective age of the Umma and its weakened state will not understand the importance of returning to this Original Path. If one is to survive—and thrive—in the Eschaton, the dark age in which knowledge and authority have degenerated, he must return to the Original Path of gratitude.

   The Shaykh is not saying one should cast aside the foundations of spiritual wayfaring, nor is he saying that the secondary paths are cut off in an absolute sense. Although he describes them as “secondary ascension points,” it is still possible, he says, to take one of them as one’s spiritual path and means of purification and illumination. If someone choses to stick to one of the secondary ascension points, the Shaykh offers him some advice.

Tuesday, May 9, 2023

Kesempurnaan Cinta

 Apabila cinta kepada Allah sudah sempurna, maka tidak ada sesuatu kesenangan yg dapat melebihi kesenangan dalam melakukan ibadah -  Al Ghazali

Wednesday, April 12, 2023

Bicara dan Amal Yang Beriman dan Munafik

 Seorang yang beriman itu sedikit bicaranya dan banyak beramalnya, sedangkan orang yang munafiq itu banyak bicaranya dan sedikit beramalnya. 

- Fudhail bin 'Iyadh